Terik matahari menyuasanai SMA 5 Sukabumi senin ini. Daun-daun dari pohon jambu jatuh berserakan terhembus angin, suara berisik warga SMA 5 saling berkicau, sebelum kembali senyap untuk jam pelajaran terakhir.
“Bu tati! ” sapa salah satu murid, namun tak ada balasan dari ujung
“Bu tatii..! ” kembali ia panggil dengan nada suara yang sedikit ditinggikan, tetap tak ada balasan
“Buuu taatiiii. ..!! ” oh no, kali ini suaranya ketinggian menjelajah ruang-ruang sekolah hingga lab biologi, untung saja patung disana tidak ada yang kaget, karna yang kaget tentu ibu tati itu sendiri.
“Bu tati, ada yang manggil” ucap murid yang sedang diajar bu tati
“Na? Kamu manggil aku? ”
“ka-kashia? ”
“kalian ngapain teriak² di luar? ”
“Lah… kok..bu tati?”
Kita akhiri saja kesalahpahaman hari itu, nanti si jesna jadi malu xixixi. “siapa sih yang tadi teriak nama bu tati?”
“Si jesna, purna OSIS”
“Mengalahkan toa suarana teh- loh kok maneh tau? ”
“aink kan bolos pelajaran bu tati, jangankan bu tati, aink nu keur modol ge kaget”
“geleuh maneh zlan” ezra ini memang tidak pernah mengaca idupnya
“kayak lu bersih aja kadal”
“azlan, ezra, entar voli yak”
“gak dulu aink ma ezra mau literasi ” azlan memang kerap kali mengikuti program literasi yang dibuat kakaknya untuk anak-anak yang tidak mampu bersekolah. Dimulai dengan 5-7 orang anak hingga kini, hanya bertambah satu. Namun itu pun sudah usaha, bersama temannya ezra mereka menjadi lebih perduli tentang orang-orang disekitarnya, terlebih anak² ini.
“Si ita mukanya gak asing” ucap azlan menyebut salah satu nama anak yang ada disana
“Gak asing? Mirip emak lu kali zlan”
“yeuuu.. Ku urang di babet iyeuh”
“eh tapi iya si, mirip….”
“kashia” jawab azlan dengan wajah senyum yang sedu
“Yeuu…ngajar lu sono, malah cinta-cintaan”
“lu gak ngerti si zra, mangkanya kalau main jangan sama laki mulu”
“selagi gak homo mah gak papa atuh” ucap ezra sembarang, memang pria satu ini sedikit trauma dengan wanita.
Matahari mulai menyembunyikan kehadirannya, esok adalah hari baru bagi semuanya.
“zra, entar kumpul ya OSIS” ini jesika, si ketos yang baik hati
“oke jes” ezra ini kebetulan koordinasi salah satu sekbid, entahlah saya tidak perduli
“Zra, voli te? ”
“OSIS”
“Butut ah” keluh azlan, “ eh tapi si kashia ikut? ” timbalnya
“Kayaknya” . Setahun yang lalu perasaan ini menemani hari-hari azlan tentang kashia, mantan ketos yg sekarang jadi purna.
“Ka kamu kumpul OSIS yaa” ketik azlan di layar siomay nya.
“Ya, ngapa? ”
“jangan lupa makan, entar tu maag kambuh, males aing bantuinnya lagi”
“sok peduli lu zlan” ya beginilah kashia agak pedas memang omongannya. Mereka dekat semenjak kashia tidak sengaja menolong azlan yang jatuh dari motornya, biasalah anak cowo. Kedekatan itu semakin dekat saat ezra menjadi jembatan bagi azlan untuk tahu apa saja yang di lakukan kashia. Main, nonton, nongkrong , bahkan berdebat, mereka melakukannya di 2 tahun belakangan ini, bukan waktu yang sebentar jika kita hitung.
“Kashia, aku suka sama kamu”
“uh?..” lawan bicaranya kebingungan
“gak papa, kalau kamu butuh waktu, tapi kashia, kamu tau persis kalau aku bukan cuma sekedar ngomong”
“berapa lama kamu bisa nunggu, Wildan? ”
“Secepatnya kalau bisa, aku gak mau berada di abu-abu terlalu lama” . Ironis, azlan kalah cepat. Apakah perasaan itu kini sia-sia?, apakah perasaan sukanya itu masih boleh ikut bersamanya?.
“zlan, literasi gak? ” sapa ezra, selepas bel pulang berdering. Tapi tak ada balasan dari sohibnya itu.
“Zlan”
“gak dulu zra, lu aja ” jawabnya sambil membelakangi ezra.
Dua minggu berlalu. Hari-hari yang terkutuk bagi azlan, dan selama 1 minggu pula ia tak memunculkan diri di sekolah, sesakit itu, seperih itu.
“Tok-tok” Pintu kamarnya diketuk. “ azlan, keluar siah, ngapain maneh di kamar terus, bertelur lu? ”
“diem, gak lucu, aink gak mau kemana-mana” jawabnya dari balik pintu. “sakit ni anak” Rika mengakhiri pembicaraannya dengan adik terakhirnya itu. “ting” . Suara notifikasi menggema kamarnya. “temanmu tampan? Rajin sekolah tidak? Tidak? Emhh BEBAN” begitulah isi pesannya. “lucu lu zra” balas azlan, untuk beberapa menit tidak ada balasan dari ezra, hanya tertinggal tanda 2 ceklik biru.
“keluar zlan, sini curhat ma aink” setelah 5 menit ezra kembali membalas pesannya. Azlan menurutinya, azlan tahu ezra sudah lama mengetahui keadaannya.
“aing sakit hati”
“tau, mangkanya lu gak sekolah, malah bertelur di kamar”
“si wildan nembak kashia”
“diterima? ”. Belum lagi dijawab, mereka melihat kashia dan wildan diatas motor meninggalkan mereka yang tak terlihat keberadaannya.
“Tuh, udah jelas” jawab azlan, sambil membaringkan tubuhnya di gazebo literasi, bersamaan dengan menutup wajahnya dengan topi miliknya.
“kashia suka sama lo zlan”
“lamun maneh tujuanna menghibur, mending belajar lagi deh”
“Tapi dia gak cinta sama lo”
“Diem deh zra, tambah nyeri nih hati aink”
“Serius aink zlan, dia suka sama maneh, tapi bukan maneh yang dia cari”
“sumpah, kenapa jadi lebih sakit, lamun maneh anu ngomongna” pembahasan tidak di lanjutkan oleh kedua belah pihak, ezra tak mau menambahkan dan azlan tak mau membicarakannya.
Esoknya azlan memberanikan diri masuk sekolah, patah hati boleh, bodoh jangan.
“huaahh, banyak juga aink ketinggalan pelajaran” keluh ezra menyesali. Bel istirahat kembali berdering, sudah lama tak di dengar azlan.
“Kemana aja maneh zlan”
“ kenapa Shia? Peduli lu?
“emosian nih, tapi aink beneran lu gak papa”
“Gak mungkin gak papa, kashia”
“zlan” suara kashia menjadi serius, azlan sadar hal itu
“gw tau lo suka sama gw, gw gak mungkin menutup mata tentang itu, tapi zlan, maaf, maaf karna gw udah berusaha untuk menerima kehadiran lo, tapi lagi, hati gw gak nerima”
“Untuk apa lo minta maaf atas perasaan gw sendiri? ”
“zlan, kantin yuk” yah, ezra mengacaukan pembicaraan penting ini.
“gw duluan shia, lo gak salah atas perasaan lo, begitu pula gw” . Inilah azlan aditya, sikecil yang berusaha menerima dan belajar dewasa.
“ Apapun itu, semoga yang terbaik” ucap azlan mengakhiri segalanya.






