“Lucaass...”
Kali ini cerita diawali dengan teriakan. Sepasang manusia
berlari kesana-kemari seperti anak kecil yang tak dijerat beban pikiran. Nikmat
sekali
“Hahaha.....kamu sangat lama, gunakan kakimu jika mau berlari”
“Cih, dasar” Dibuatnya kesal wanita itu. Satu tahun? Atau dua
tahun mereka sudah bersama? Entahlah, mereka hanya menikmatinya. Waktu tak
berimbas pada sesiapa yang berbahagia
“Mau aku belikan es krim? ”Yang pria sibuk merawat wanitanya
“Tidak mau! ” wanitanya sibuk bercumbu amarah sendiri
“Jangan gitu dong sin, aku Cuma bercanda”
“Yasudah, es krim rasa vanila ya”
“okee...” Ditatapnya dalam dalam pundak pria yang sudah
membelakanginya “sangat tampan, dilihat dari belakang pun” tentu saja pujian
itu untuk prianya. Bukan dusta, memang benar yang dia katakan, pria itu tinggi
dan kuat bak raksasa saja, seringkali takut wanita itu dibuatnya.
“Sin, kamu besok sibuk tidak? ”
“kenapa? ” cemong gaya bicaranya lantaran es krim yang ada
dimulutnya
“aku mau ajak kamu jalan-jalan lagi” Dasar remaja, tak kan
pernah kenyang nafsumu walau diberi makan berjuta kalipun
“eumm....harus banget besok? ”
“kenapa? ”
“enggak, aku hanya ingin istirahat saja besok, hari ini sangat
menyenangkan, sudah cukup kurasa”
“baiklah, aku antar kamu pulang sekarang”
“okeee....ayoo...kita pulang bersama lucaass.....” peliknya
menerangi langit yang sebentar lagi kelam
“Lucas, besok aku harus ke kampus, kamu bisa anterin gak? ” ketiknya dibalik layar gawai
Kenapa nanya? Aku akan anterin,jam berapa? ”. Oke sampai situ aja, kalian akan iri jika pesan-pesan itu dituliskan
Esoknya, matahari tak letih-letih
nya memajang awaknya di sebagian langit
Others: AZLAN ADITYA
“Lucas, jika ada orang yang suka dengan ku, apa yang kamu
lakukan? ” hanya ada matahari, tak ada hujan, angin dan badai, tiba-tiba saja dia tanyakan pertanyaan aneh itu
“Eumm....kenapa? Mungkin aku akan ajak dia melukis, aku akan ajarkan dia cara melukis yang benar.
Jantung wanita itu hampir berhenti “melukis? ” ucap batinya
“Beneran? ” tanya ia lagi, memastikan pada lawan bicaranya
“bwahahaha.....percaya aja sih, aku cuma bercanda” diikuti
gelaknya yang tak bermakna
Sesaat, lega batin wanita itu, tetapi timbul ketakutan, entah
apa padahal pacarnya hanya bercanda
Seminggu berlalu, tak ada yang berubah, hanya satu jikapun
ada,itu pacarnya, seringkali Sinta asing dengan sikap pacarnya, akhir-akhir ini,
lebih sering diam dan marah
“Lucas, kamu marah padaku? ”
“entah” jawabnya kasar, menunjukkan tak ada niat menjawab
wanita itu
“Lucaass....maaf ya, aku salah” dibuai-buai tangan besar
pacarnya
“manja sekali, aku tidak suka, lepaskan” suaranya cukup
menakutkan untuk Sinta, di tambah postur tubuh yang sangat besar
“Aku mau pergi, kamu pulang saja” Lucas segera menjangkau jaket kulit
warna hitam tebal yang dihiasi kancing berkilau miliknya. Tak mau diam saja, Sinta diam-diam mengikuti lucas, kecurigaan seringkali menjadi tamu utama hatinya
akhir-akhir ini.
Sepanjang perjalanan, tempat-tempat ini tak dia kenali, seperti
desa mati, ditempati rumah-rumah tak berpenghuni. Sinta melihat lucas berjalan
masuk kedalam rumah yang di alih fungsikan menjadi gudang terbengkalai. “Brak”
hampir dia teriak lantaran kaget, suara itu berasal dari gudang
“Kau pikir, kau bisa lari? Bodoh” suaranya menjajah ruangan
penuh debu itu
“Lepasin saya lev” ada satu lagi suara seperti orang tak di
beri makan berbulan-bulan sangat lemah, atau hampir mati
“lepasin? Hey, dengar si bodoh bau bangkai, mati saja kau”
“ Arrghh.... Sakit, lepasin levi” jerit pria lemah itu,
sepertinya rambutnya dijambak keras-keras
“levi? ” Sinta mengintip dibalik meja-meja rapuh yang tepat di
belakang kedua pria itu
“Kamu sudah memiliki Sinta, dan saya sudah tak peduli, apalagi sekarang, lepaskan saya levi”
Terusmenerus dia memohon-mohon seperti tak ada lagi harga diri.
"Sinta?" Batin Sinta bertanya. Sinta sulit mengenali wajah pria lemah itu, karena pria itu di diikat
pada kursi yang mengarah pacarnya
“Kau pikir aku mau? Kau pikir aku bodoh? Hah? ” suaranya
melengking ke mana-mana
“Kemanapun kau pergi, dia selalu mencarimu jika dia tau kau
suka padanya, dia!...akan terus memikirkanmu, dia jug- ah, sakit hatiku
memikirkannya”
“levi, kau adikku, aku kembaranmu, apa kau tak mengasihaniku?
”
“deg”
“levi? Lucas?m-mereka kemb-baran?” hanya hatinya yang mampu
berbicara, jantungnya berlari begitu cepat, ditambah rasa takut di sekujur
tubuh. Jadi selama ini pria yang dia pacari bukan Lucas?
“Kau terus saja seperti itu lucas”
“deg” lagi, Sinta terus merasakan darahnya begitu cepat mengalir, ia amat ketakutan
“dari dahulu, tak pernah berubah, memelas kasih orang lain”
“tetapi Lucas, aku sudah muak, kita akhiri saja”
“tidak, jangan, luca-ah tidak levi, entahlah siapa pun kau,
jangan lakukan itu! ” batin Sinta kembali bergusar. Sinta yang malang cepat kau keluar dari tempat itu.
Sementara levi mengeluarkan beberapa alat pemotong yang tajam, mengkilap
“Lehermu sasarannya Lucas” bicaranya lembut dan mematikan,
senyumnya, senyum yang di perlihatkan hanya untuk kakaknya, lebih tepatnya senyum spesial miliknya untuk korbannya.
Others: BELLA RAGAZZA
“jangan, levi jangan, dengarkan saya, saya akan pergi jauh,
saya janji” pada satu sisi pria lemah ini terus memelas kasih
“hahaha......dengan ini kau akan pergi jauh, sangat jauh lucas... "
“srek.....tuk....tuk.....tuk”
“l-le-pas.......k-kepalanya.....” suaranya hilang disekat debu dan ketakutan. Sempoyongan dia berusaha lari, meloloskan diri dari
psikopat ini, karena bisa saja dia dibunuh dengan cara yang sama, bahkan lebih.
Sial!, kakinya tidak bisa di ajak kompromi, kakinya gemetar kemas, ruang- ah gudang ini sangat gelap, penuh dengan barang-barang kotor, berdebu, panas dan pengap "aku hampir Pingsan".
Dengan penuh tekanan, Sinta berhasil kabur dan keluar dari
neraka itu. Berlari sekencang-kencangnya walau tak bertujuan
“Sinta?” oh tidak, belum lagi Sinta keluar dari pintu masuk satu-satunya itu, luc-levi melihatnya, sembari
membersihkan tangannya yang 'kotor'
“Sinta!.....sinta! ” diteriakinya wanita itu, sementara Sinta
tergopong-gopong berlari bersama akal dan pikirannya yang terbang pergi jauh
entah di bawa ke mana. Yang dia tahu dia hanya “harus lari sejauh mungkin”
“aish! Mengapa sih dia? ” berangnya
“Sinta!” mulai dia mengejar wanita yang dia pacari, wanita yang
digemari kakaknya sendiri
“Brak...”
Hancur, organ tubuhnya memisah satu sama lain. Mobil truk besar menghantam nya dari samping, sementara Sinta
tak menoleh sedikitpun, hanya terus berlari.
Satu bulan berlalu, Sinta seperti orang paranoid yang selalu di buai ketakutan dan rasa
bersalah. Jam menampakkan satu pukul tiga puluh, obat yang diberikan
dokternya tak mampu memberi rasa kantuk. Beberapa saat mulai dia merinding,
entah mengapa, hanya saja seperti ada yang ingin datang
“tok......tok....tok”
“deg” “ibu? Kau di sana?”
“Ibu? ”
“Sinta”
“deg” suara ini, pria itu, mulai tubuhnya gemetar hebat berkeringat
di segala bagian tubuh
“siapa?”
“Ini aku, Lucas”
“deg.....deg....deg”
“aku tidak ingin mengganggumu, aku hanya ingin minta tolong,
tolong kuburkan aku dengan baik dan layak” suaranya hilang di balik pintu, lalu
Sinta menangis sejadi-jadinya



