BELLA RAGAZZA
Siul-siul burung mewarnai udara pagi, disambut permai matahari pagi. Diguyur semangat hari baru
“ Wiyyaaam... Kamu jadi kerja gak?” pekik wanita paruh baya,
terlihat ikut mewarnai suasana pagi.
“Iya, nican” Aku sendiri menyadari panggilan asing itu.
Nican, nini cantik, tetapi aku suka, nican juga rela saja dipanggil begitu. Jam
memajang antara angka 6 dan 7. Sudah waktunya berangkat kerja.
“Tin-tin”
“Wiyaam, cewek sinting keluar lo”
“Gak ada adab banget mulutnya” Geram gadis itu
“Lagian suka banget telat, pacaran kalian” oloknya lagi
“mulut lo tuh, gw mandiin bunga 7 rupa tau rasa lo” tak
saling kalah keduanya asyik saja melempar guyonan
“winesh, cepet kalian pergi, sakit telinga nican dibuatnya”
Rupanya orang tua itu ikut menambah kebisingan.
“nicaan....aaa kangen” lentur badanya memeluk wanita tua itu
“Dih, paan jamet”
“nican kalau capek ngurus wiyyam, kirim ke panti jompo aja
langsung” bisik winesh, bak sahabat saja dibuatnya orang tua itu. Di akhiri tawa
dari keduanya, sampailah wiyyam dan winesh pada tujuan mereka.
“berdua mulu, gak sekalian bikin buku nikah”
“mirip lagi” keduanya diceng-cengi oleh sahabat se pekerjaannya, argh baru juga
sampai. Tak heran selain nama, wajah keduanya pun terlihat mirip.
“Mau makan enak aja harus maksa temennya nikah”
“semur daging wkwkwk” ejek balik keduanya, tak kenal kalah.
Terlihat geram diwajah berry, pria pecinta gosip. Kesibukan mulai menyuasanai
kafe, wajah pekerjaan keras terbias pada ke-empatnya. 2 bulan, 2 bulan pas
ke-empatnya mencucurkan keringat di tempat ini. Segenap haru,duka, geram, dan
girang sudah jauh menyelami ke-empatnya. Perasaan buncah, gelisah, yang selama
ini merangkul mereka tentang kafe ini, tak terlihat ada, atau mungkin di abaikan
ke-empatnya.
“nicaaann..... Wiyyam pulang”
lelah.sangat pasti. Pergi pagi, pulang malam, sudah jadi makanan sehari-hari tubuhnya
“Makan dahulu wiyyam, nican masakin soto favoritmu” bak memperoleh
ilham, sel-sel tubuhnya kembali bernafas. Nicannya ibarat tabir penumpas letih, tahu
banget cara mengusir penat cucu bunga hatinya. Sebarang waktu hatinya terenyuh,
gadis seusianya harus menghidupi diri sendiri, ditambah nicannya. Orang tuanya
telah lama tinggal di antara bintang.
“guys, besok kafe tutup, kita
nyiapin semua perlengkapan kafe doang”
“tumbenan, ada acara apa Rin?”
“gak tau, kali si bos dapat hidayah jodohin si wiyam ma
wines”
“si berry badannya suka gatal kalau gak julid sehari” ketik wiyyam
berang, hanya saja tertahan layar gawai miliknya.
“kafe kita di boking buat acara, ultah? Atau perayaan
karyawan gitu, gak tau deh”
“eumm gitu oke deh rin”
“sok kul banget wiyam” imbuh winesh. Namun wiyyam tak mau memperpanjang, karena tubuhnya
juga lelah, wiyam mematikan gawainya, rebahkan penatnya, sembuhkan semangatnya.
“Tring-tring” sudah tanggung jawab alarm membangunkan tuannya
tepat waktu. Akibatnya pagi kali ini tak disertai ocehan nicannya.
Apik, elok, penampilannya, tertata rapi.
“ah kaget”
“nicann!” berangnya
“hahaha tumben udah cantik” Oloknya
“udah ah wiyam berangkat dahulu” timbul cemberut lucu cucunya
“miy-”
“apa! ” gertaknya
“Kaget, belum lagi selesai gw teriaknya”
“jamet, buruan jalan”
Others: KUMPULAN PUISI
Waktu berjalan semestinya, hingga malam menerobos masuk
tanpa aba-aba, udara sejuknya menusuk raga-raga remaja ini, kecuali winesh dia
sudah tua. Namun ada yang aneh sedari tadi bagi wiyyam, dirasanya ada sosok yang
terus mengintai.dari balik pintu menuju gudang. ah sudahlah mungkin lelahnya menghasilkan
halusinasi.
“berapa banyak si umatnya” Keluh carina
“tumben mak Lampir ngeluh”
“mulut lo tu ya ber” batinnya kesal
“eh kalau di liat liat ni kafe angker juga wkwkw” ucap winesh
sembrono
“hush, jangan mancing-mancing deh win”
“tau, sok berani banget”
“entar makhluknya nongol nangis” ejek Berry tak mau ketinggalan
“udah ah, merinding gw” wiyyam takut akan candaan temanya sendiri
“yaudah, gw cek gudang dahulu”
“Hati-hati lo nes” Berry menakut-nakuti
“gw temenin deh” carina menawarkan diri. Setelah lama,
kesunyian mulai terasa di keduanya, riuh terik siang hari seolah dilahap habis
oleh malam, mencekam. Setelah lama diam,mulai terasa canggung- bukan,tetapi sunyi.
Rasa sunyi itu mulai ikut meringkup ruang-ruang kafe ini. “Gubrak” “carin
larii!! ”
“ber, winesh kenapa?” panik, wiyyam bergidik ketakutan.
Others: Siapa? Ini Aku Lucas
Hilang, dentuman serta pekik jerit winesh hilang mendadak. Tak
banyak omong berry mengenggam erat wiyyam, sahabat yang dianggap adik olehnya
tak boleh lenyap pikirnya. Satu langkah menuju gudang, dua langkah, tiga
langkah, empat, lima- “trek”. Mati, semuanya mati, tak satupun lampu hidup.
“ber” bisik wiyyam pelan, sangat,hingga samar terdengar, tak
ingin 'sesuatu' mendengarnya yang dia pun tak tahu. “tunggu, carina?” pekik berry
memastikan “ngapain di sana? Yam tunggu di sini, aku jemput carin” ragu wiyyam
melepas genggamannya, namun harus. “Hati-hati ber” ucap sekaligus doanya.
“Trek” ah syukur lamp- tunggu “berry! Carina! Kalian di mana?”
“Trek” lagi, bodoh, siapa sijahil yang terus memainkan
sakelar lampu. “Trek” mampus.....,wiyyam bawa dirimu keluar dari sana segera.
“carina?” suaranya gemetar, “ngapain megang tangan aku?” tangan carina seketika
merangkul tangan kecil milik wiyyam, sangat dingin. “Berry sama winesh ke mana? Tadi kalian kenapa di
gudang? ” tanyanya bertubi-tubi dengan mulut terbata, wajah bias memucat. Tak
ada jawaban dari seberang. Heran wiyyam di buatnya. “tunggu, tangan kamu kok
ba- “Trek” sah. Senyum, wajahnya tersenyum. Gila. “lari wiyyam lari!! Dia bukan
carina” pekik jeritnya pada diri sendiri.
“cafenya tutup ya? ”
“ Iya, udah semingguan”
"Kok agak ngeri ya cafe nya? Apa perasaan aku aja? "
"Loh, aku pikir aku doang yang ngerasa begitu"
“denger-denger orang yang pertama kali bangun kafe ini,
bunuh diri di gudang”
“hah? Seriusan? Siapa memangnya? ”
“Bella Ragazza”.



1 comments
Gak serem banget,but okey
BalasHapus