SimbaQ

Hi! WISH WE FINE

Diberdayakan oleh Blogger.
  • About
  • Contact
  • Home
  • Beranda
  • Categories
  • Post Style

 







“Lucaass...”

Kali ini cerita diawali dengan teriakan. Sepasang manusia berlari kesana-kemari seperti anak kecil yang tak dijerat beban pikiran. Nikmat sekali

“Hahaha.....kamu sangat lama, gunakan kakimu jika mau berlari”

“Cih, dasar” Dibuatnya kesal wanita itu. Satu tahun? Atau dua tahun mereka sudah bersama? Entahlah, mereka hanya menikmatinya. Waktu tak berimbas pada sesiapa yang berbahagia

“Mau aku belikan es krim? ”Yang pria sibuk merawat wanitanya

“Tidak mau! ” wanitanya sibuk bercumbu amarah sendiri

“Jangan gitu dong sin, aku Cuma bercanda”

“Yasudah, es krim rasa vanila ya”

“okee...” Ditatapnya dalam dalam pundak pria yang sudah membelakanginya “sangat tampan, dilihat dari belakang pun” tentu saja pujian itu untuk prianya. Bukan dusta, memang benar yang dia katakan, pria itu tinggi dan kuat bak raksasa saja, seringkali takut wanita itu dibuatnya.

“Sin, kamu besok sibuk tidak? ”

“kenapa? ” cemong gaya bicaranya lantaran es krim yang ada dimulutnya

“aku mau ajak kamu jalan-jalan lagi” Dasar remaja, tak kan pernah kenyang nafsumu walau diberi makan berjuta kalipun

“eumm....harus banget besok? ”

“kenapa? ”

“enggak, aku hanya ingin istirahat saja besok, hari ini sangat menyenangkan, sudah cukup kurasa”

“baiklah, aku antar kamu pulang sekarang”

“okeee....ayoo...kita pulang bersama lucaass.....” peliknya menerangi langit yang sebentar lagi kelam

“Lucas, besok aku harus ke kampus, kamu bisa anterin gak? ”  ketiknya dibalik layar gawai

Kenapa nanya? Aku akan anterin,jam berapa? ”. Oke sampai situ aja, kalian akan iri jika pesan-pesan itu dituliskan

Esoknya, matahari tak letih-letih nya memajang awaknya di sebagian langit


Others: AZLAN ADITYA


“Lucas, jika ada orang yang suka dengan ku, apa yang kamu lakukan? ” hanya ada matahari, tak ada hujan, angin dan badai, tiba-tiba saja dia tanyakan pertanyaan aneh itu

“Eumm....kenapa?  Mungkin aku akan ajak dia melukis, aku akan ajarkan dia cara melukis yang benar. 

Jantung wanita itu hampir berhenti “melukis? ” ucap batinya

“Beneran? ” tanya ia lagi, memastikan pada lawan bicaranya

“bwahahaha.....percaya aja sih, aku cuma bercanda” diikuti gelaknya yang tak bermakna

Sesaat, lega batin wanita itu, tetapi timbul ketakutan, entah apa padahal pacarnya hanya bercanda

Seminggu berlalu, tak ada yang berubah, hanya satu jikapun ada,itu pacarnya, seringkali Sinta asing dengan sikap pacarnya, akhir-akhir ini, lebih sering diam dan marah

“Lucas, kamu marah padaku? ”

“entah” jawabnya kasar, menunjukkan tak ada niat menjawab wanita itu

“Lucaass....maaf ya, aku salah” dibuai-buai tangan besar pacarnya

“manja sekali, aku tidak suka, lepaskan” suaranya cukup menakutkan untuk Sinta, di tambah postur tubuh yang sangat besar

“Aku mau pergi, kamu pulang saja” Lucas segera menjangkau jaket kulit warna hitam tebal yang dihiasi kancing berkilau miliknya. Tak mau diam saja, Sinta diam-diam mengikuti lucas, kecurigaan seringkali menjadi tamu utama hatinya akhir-akhir ini.

Sepanjang perjalanan, tempat-tempat ini tak dia kenali, seperti desa mati, ditempati rumah-rumah tak berpenghuni. Sinta melihat lucas berjalan masuk kedalam rumah yang di alih fungsikan menjadi gudang terbengkalai. “Brak” hampir dia teriak lantaran kaget, suara itu berasal dari gudang

“Kau pikir, kau bisa lari? Bodoh” suaranya menjajah ruangan penuh debu itu

“Lepasin saya lev” ada satu lagi suara seperti orang tak di beri makan berbulan-bulan sangat lemah, atau hampir mati

“lepasin? Hey, dengar si bodoh bau bangkai, mati saja kau”

“ Arrghh.... Sakit, lepasin levi” jerit pria lemah itu, sepertinya rambutnya dijambak keras-keras

“levi? ” Sinta mengintip dibalik meja-meja rapuh yang tepat di belakang kedua pria itu

“Kamu sudah memiliki Sinta, dan saya sudah tak peduli, apalagi sekarang, lepaskan saya levi”

Terusmenerus dia memohon-mohon seperti tak ada lagi harga diri. 

"Sinta?" Batin Sinta bertanya. Sinta sulit mengenali wajah pria lemah itu, karena pria itu di diikat pada kursi yang mengarah pacarnya

“Kau pikir aku mau? Kau pikir aku bodoh? Hah? ” suaranya melengking ke mana-mana

“Kemanapun kau pergi, dia selalu mencarimu jika dia tau kau suka padanya, dia!...akan terus memikirkanmu, dia jug- ah, sakit hatiku memikirkannya”

“levi, kau adikku, aku kembaranmu, apa kau tak mengasihaniku? ”

“deg”

“levi? Lucas?m-mereka kemb-baran?” hanya hatinya yang mampu berbicara, jantungnya berlari begitu cepat, ditambah rasa takut di sekujur tubuh. Jadi selama ini pria yang dia pacari bukan Lucas?

“Kau terus saja seperti itu lucas”

“deg” lagi, Sinta terus merasakan darahnya begitu cepat mengalir, ia amat ketakutan

“dari dahulu, tak pernah berubah, memelas kasih orang lain”

“tetapi Lucas, aku sudah muak, kita akhiri saja”

“tidak, jangan, luca-ah tidak levi, entahlah siapa pun kau, jangan lakukan itu! ” batin Sinta kembali bergusar. Sinta yang malang cepat kau keluar dari tempat itu. Sementara levi mengeluarkan beberapa alat pemotong yang tajam, mengkilap

“Lehermu sasarannya Lucas” bicaranya lembut dan mematikan, senyumnya, senyum yang di perlihatkan hanya untuk kakaknya, lebih tepatnya senyum spesial miliknya untuk korbannya. 


Others: BELLA RAGAZZA


“jangan, levi jangan, dengarkan saya, saya akan pergi jauh, saya janji” pada satu sisi pria lemah ini terus memelas kasih

“hahaha......dengan ini kau akan pergi jauh, sangat jauh lucas... "

“srek.....tuk....tuk.....tuk”

“l-le-pas.......k-kepalanya.....” suaranya hilang disekat debu dan ketakutan. Sempoyongan dia berusaha lari, meloloskan diri dari psikopat ini, karena bisa saja dia dibunuh dengan cara yang sama, bahkan lebih.

Sial!, kakinya tidak bisa di ajak kompromi, kakinya gemetar kemas, ruang- ah gudang ini sangat gelap, penuh dengan barang-barang kotor, berdebu, panas dan pengap "aku hampir Pingsan".

Dengan penuh tekanan, Sinta berhasil kabur dan keluar dari neraka itu. Berlari sekencang-kencangnya walau tak bertujuan

“Sinta?” oh tidak, belum lagi Sinta keluar dari pintu masuk satu-satunya itu, luc-levi melihatnya, sembari membersihkan tangannya yang 'kotor'

“Sinta!.....sinta! ” diteriakinya wanita itu, sementara Sinta tergopong-gopong berlari bersama akal dan pikirannya yang terbang pergi jauh entah di bawa ke mana. Yang dia tahu dia hanya “harus lari sejauh mungkin”

“aish! Mengapa sih dia? ” berangnya

“Sinta!” mulai dia mengejar wanita yang dia pacari, wanita yang digemari kakaknya sendiri

“Brak...”

Hancur, organ tubuhnya memisah satu sama lain. Mobil truk besar menghantam nya dari samping, sementara Sinta tak menoleh sedikitpun, hanya terus berlari.

Satu bulan berlalu, Sinta seperti orang paranoid yang selalu di buai ketakutan dan rasa bersalah. Jam menampakkan satu pukul tiga puluh, obat yang diberikan dokternya tak mampu memberi rasa kantuk. Beberapa saat mulai dia merinding, entah mengapa, hanya saja seperti ada yang ingin datang

“tok......tok....tok”

“deg” “ibu? Kau di sana?”

“Ibu? ”

“Sinta”

“deg” suara ini, pria itu, mulai tubuhnya gemetar hebat berkeringat di segala bagian tubuh

“siapa?”

“Ini aku, Lucas”

“deg.....deg....deg”

“aku tidak ingin mengganggumu, aku hanya ingin minta tolong, tolong kuburkan aku dengan baik dan layak” suaranya hilang di balik pintu, lalu Sinta menangis sejadi-jadinya

 

 

 

 

  • 0 Comments





Siul-siul burung mewarnai udara pagi, disambut permai matahari pagi. Diguyur semangat hari baru

“ Wiyyaaam... Kamu jadi kerja gak?” pekik wanita paruh baya, terlihat ikut mewarnai suasana pagi.

“Iya, nican” Aku sendiri menyadari panggilan asing itu. Nican, nini cantik, tetapi aku suka, nican juga rela saja dipanggil begitu. Jam memajang antara angka 6 dan 7. Sudah waktunya berangkat kerja.

“Tin-tin”

“Wiyaam, cewek sinting keluar lo”

“Gak ada adab banget mulutnya” Geram gadis itu

“Lagian suka banget telat, pacaran kalian” oloknya lagi

“mulut lo tuh, gw mandiin bunga 7 rupa tau rasa lo” tak saling kalah keduanya asyik saja melempar guyonan

“winesh, cepet kalian pergi, sakit telinga nican dibuatnya” Rupanya orang tua itu ikut menambah kebisingan.

“nicaan....aaa kangen” lentur badanya memeluk wanita tua itu

“Dih, paan jamet”

“nican kalau capek ngurus wiyyam, kirim ke panti jompo aja langsung” bisik winesh, bak sahabat saja dibuatnya orang tua itu. Di akhiri tawa dari keduanya, sampailah wiyyam dan winesh pada tujuan mereka.

“berdua mulu, gak sekalian bikin buku nikah”

“mirip lagi” keduanya diceng-cengi oleh sahabat se pekerjaannya, argh baru juga sampai. Tak heran selain nama, wajah keduanya pun terlihat mirip.

“Mau makan enak aja harus maksa temennya nikah”

“semur daging wkwkwk” ejek balik keduanya, tak kenal kalah. Terlihat geram diwajah berry, pria pecinta gosip. Kesibukan mulai menyuasanai kafe, wajah pekerjaan keras terbias pada ke-empatnya. 2 bulan, 2 bulan pas ke-empatnya mencucurkan keringat di tempat ini. Segenap haru,duka, geram, dan girang sudah jauh menyelami ke-empatnya. Perasaan buncah, gelisah, yang selama ini merangkul mereka tentang kafe ini, tak terlihat ada, atau mungkin di abaikan ke-empatnya.

“nicaaann..... Wiyyam pulang” lelah.sangat pasti. Pergi pagi, pulang malam, sudah jadi makanan sehari-hari tubuhnya

“Makan dahulu wiyyam, nican masakin soto favoritmu” bak memperoleh ilham, sel-sel tubuhnya kembali bernafas. Nicannya ibarat tabir penumpas letih, tahu banget cara mengusir penat cucu bunga hatinya. Sebarang waktu hatinya terenyuh, gadis seusianya harus menghidupi diri sendiri, ditambah nicannya. Orang tuanya telah lama tinggal di antara bintang.

“guys, besok kafe tutup, kita nyiapin semua perlengkapan kafe doang”

“tumbenan, ada acara apa Rin?”

“gak tau, kali si bos dapat hidayah jodohin si wiyam ma wines”

“si berry badannya suka gatal kalau gak julid sehari” ketik wiyyam berang, hanya saja tertahan layar gawai miliknya.

“kafe kita di boking buat acara, ultah? Atau perayaan karyawan gitu, gak tau deh”

“eumm gitu oke deh rin”

“sok kul banget wiyam” imbuh winesh. Namun wiyyam tak mau memperpanjang, karena tubuhnya juga lelah, wiyam mematikan gawainya, rebahkan penatnya, sembuhkan semangatnya.

“Tring-tring” sudah tanggung jawab alarm membangunkan tuannya tepat waktu. Akibatnya pagi kali ini tak disertai ocehan nicannya.

Apik, elok, penampilannya, tertata rapi.

“ah kaget”

“nicann!” berangnya

“hahaha tumben udah cantik” Oloknya

“udah ah wiyam berangkat dahulu” timbul cemberut lucu cucunya

“miy-”

“apa! ” gertaknya

“Kaget, belum lagi selesai gw teriaknya”

“jamet, buruan jalan”


Others: KUMPULAN PUISI


      Waktu berjalan semestinya, hingga malam menerobos  masuk tanpa aba-aba, udara sejuknya menusuk raga-raga remaja ini, kecuali winesh dia sudah tua. Namun ada yang aneh sedari tadi bagi wiyyam, dirasanya ada sosok yang terus mengintai.dari balik pintu menuju gudang. ah sudahlah mungkin lelahnya menghasilkan halusinasi.

“berapa banyak si umatnya” Keluh carina

“tumben mak Lampir ngeluh”

“mulut lo tu ya ber” batinnya kesal

“eh kalau di liat liat ni kafe angker juga wkwkw” ucap winesh sembrono

“hush, jangan mancing-mancing deh win”

“tau, sok berani banget”

“entar makhluknya nongol nangis” ejek Berry tak mau ketinggalan

“udah ah, merinding gw”  wiyyam takut akan candaan temanya sendiri

“yaudah, gw cek gudang dahulu”

“Hati-hati lo nes” Berry menakut-nakuti

“gw temenin deh” carina menawarkan diri. Setelah lama, kesunyian mulai terasa di keduanya, riuh terik siang hari seolah dilahap habis oleh malam, mencekam. Setelah lama diam,mulai terasa canggung- bukan,tetapi sunyi. Rasa sunyi itu mulai ikut meringkup ruang-ruang kafe ini. “Gubrak” “carin larii!! ”

“ber, winesh kenapa?” panik, wiyyam bergidik ketakutan.


Others: Siapa? Ini Aku Lucas


Hilang, dentuman serta pekik jerit winesh hilang mendadak. Tak banyak omong berry mengenggam erat wiyyam, sahabat yang dianggap adik olehnya tak boleh lenyap pikirnya. Satu langkah menuju gudang, dua langkah, tiga langkah, empat, lima- “trek”. Mati, semuanya mati, tak satupun lampu hidup.

“ber” bisik wiyyam pelan, sangat,hingga samar terdengar, tak ingin 'sesuatu' mendengarnya yang dia pun tak tahu. “tunggu, carina?” pekik berry memastikan “ngapain di sana? Yam tunggu di sini, aku jemput carin” ragu wiyyam melepas genggamannya, namun harus. “Hati-hati ber” ucap sekaligus doanya. “Trek” ah syukur lamp- tunggu “berry! Carina! Kalian di mana?”

“Trek” lagi, bodoh, siapa sijahil yang terus memainkan sakelar lampu. “Trek” mampus.....,wiyyam bawa dirimu keluar dari sana segera. “carina?” suaranya gemetar, “ngapain megang tangan aku?” tangan carina seketika merangkul tangan kecil milik wiyyam, sangat dingin. “Berry sama winesh ke mana? Tadi kalian kenapa di gudang? ” tanyanya bertubi-tubi dengan mulut terbata, wajah bias memucat. Tak ada jawaban dari seberang. Heran wiyyam di buatnya. “tunggu, tangan kamu kok ba- “Trek” sah. Senyum, wajahnya tersenyum. Gila. “lari wiyyam lari!! Dia bukan carina” pekik jeritnya pada diri sendiri.

“cafenya tutup ya? ”

“ Iya, udah semingguan”

"Kok agak ngeri ya cafe nya? Apa perasaan aku aja? "

"Loh, aku pikir aku doang yang ngerasa begitu"

“denger-denger orang yang pertama kali bangun kafe ini, bunuh diri di gudang”

“hah? Seriusan? Siapa memangnya? ”

“Bella Ragazza”.

 


  • 1 Comments
Postingan Lama Beranda

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

  • Cerpen
  • Contact
  • Puisi

About Me

SimbaQ
Segala tentang keresahan yang dituangkan jadi tulisan. 
Read more >

recent posts

Labels

cerpen romansa (3) Horror (2) Kumpulan puisi (2) Narasi (1) puisi sedu (2) simbaQ (6) thriller (2)

Laporkan Penyalahgunaan

Keep Reading

Semenanjung

Search something!

Menu

  • About
  • Privacy policy
  • Disclaimer
  • Contact

instagram

Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top