SWEET PEA
"Stop"
"You have to stop"
" Sejauh mana lagi kamu akan lari niz, ini membantu kamu? " Suaranya dirangkul khawatir
"Ngapain kamu di sini? " Geramnya
"Soal pena dari areez milik kamu , bukan aku yang ngambil "
"Tap-"
"Ini buktinya, kamu butuh itu kan" Suaranya terengah-engah, nafasnya memburu. Berlari sekitar 20 meter cukup membuatnya bak maling ingin ditangkap, bukan tanpa alasan, ia berlari mengejar sahabatnya. Mata gadis itu mulai meladeni layar gawai milik sarah, menyandingkan bukti video itu dengan kejadian yang ia alami.
"Amel bilang dia gak sengaja ngeliat karen ngambil pena itu " Timpal sarah.
Langsung saja gadis itu terduduk layu, lenyap tak bertenaga, selama ini ia salah menaruh kecewa. Video itu cukup menolak mentah-mentah prasangka buruknya pada sarah. Sarah tak salah, sahabatnya- tunggu apakah masih hak nizha mengatakan sarah Sahabatnya setelah kejadian ini?. Matanya sendu menahan butir air mata dari pelupuk mata.
"Sarah... Maaf... " Suaranya hilang diujung kata. Kesal, geram, menyuasanai batinnya, belum lagi kepedihan yang papanya berikan merangkul dari belakang. Tapi sarah datang, sarah ada untuk menghancur lumatkan segalanya, ia bersedia memberikan hangatnya ditubuh sarah, melindungi dari segala keegoisan masalah yang merangkul dari berbagai arah. "Pluk" Sarah mendaratkan jaketnya di pundak nizha. " Dingin zha, yuk pulang" Ajaknya lembut. Berpayung langit malam berhiasi bintang, sarah menjangkau tangan mungil nizha seakan tak mau sahabatnya mengudara, lenyap tak bersuara. Ia tahu persis bukan tanpa alasan nizha seperti itu, seperti anak kecil tersesat, dengan segala cemas dan sedih yang ia bawa. Areez, semua karena pria itu. Pria yang tak begitu hebat, sosoknya juga tak begitu permai, tapi hangatnya, hangatnya mampu menerangi singgasana di setiap kerajaan. Bahkan nizha ingat betul kalimat areez yang masih tertinggal di benaknya.
"Aku itu serupa bayangan, sulit kau jangkau, juga tak menyuguhkan apapun untukmu dan hidupmu, jadi tolong lenyapkan rasa itu dari ruang hatimu, nizha, mungkin sangat egois tapi tolong sertakan aku Dibahagiamu". Pedih. Mungkin ini sebabnya, mungkin ia sudah tahu ia akan pergi. Areez tak ingin menyakiti mereka, terlihat cinta miliknya tak egois. Cinta itu terlalu istimewa bagi areez. Terlebih cepat atau lambat ia akan berkelana dengan fase yang tak berujung.
Others: AZLAN ADITYA
"Nizha..nizha sesak sekali ceritamu" Batinnya berujar.
Sesekali bayang-bayang areez menyelimuti pikirannya, senyum, tawa, mata bulatnya, segala milik dan tentangnya. Biarlah, biarkan dia nizha, mengistirahatkan tubuh kuat miliknya untuk selamanya. "Selamat beristirahat.... Pulangku". Bisikku pada udara.
"Kamu istirahat niz, jangan kayak tadi lagi, aku jadi olahraga malam-malam" Belum lagi kaki nizha menapak pintu pagar rumahnya, sarah sudah menjatuhkan ultimatumnya.
"Sar.. Kalau ada kata yang mewakili ribuan maaf aku bisa mengatakanya beratusan kali, just for you"
"Sayangnya gak ada ya zha" Ejek sarah
Batin gadis itu tentram untuk beberapa lama setelah tahu ia tak sendiri lagi.
Tersiar senyum di wajah keduanya. Nizha seharusnya tau sarah tak mahir dalam berlari, tapi bagaimanapun ia tahu Sahabatnya akan tulus melakukan itu untuknya. Cukup sudah nizha menitikberatkan beruntungnya ia memiliki sahabat bak karakter moana itu, ya tentu saja dengan keras kepalanya. Tapi bukankah seharusnya seperti itu, justru itu yang merealisasikan kata manusia yang hanyut dari sempurna. Penuh sudah hikayat malam ini, sarah membebaskan nizha untuk kemudian menghilangkan penatnya, biarkan permadani indah menyerap lelahnya dan sedihnya, walau tak ilang semalam. Berharap kepiluan hilang dalam semalam menjadikanmu makhluk individualis.
"Zha, besok aku ikut ya jenguk papa kamu"
"Okee" Ketiknya di layar gawai
Nizha acap kali menyesali hari itu, hari di mana ia gagal berkrompomi dengan amarahnya sendiri.
"Saya bingung, apa yang membuat papa kamu nyuruh saya deketin kamu"
"Papa? "
"Iya, tapi mungkin karena ini"
"Apa? "
"Kamu... Kuat, sangat kuat, papa kamu bilang kamu pernah kehilangan seseorang, saya bilang saya gak mau jadi penghibur, setelah beberapa lama ternyata kata 'Teman' lebih tepat untuk kita, karna kita berdua hanya mengagumi bukan mencintai"
"Adelio.. "
"Kalau mau sembuh, cari obatnya niz, bukan pasrah, mungkin boleh,tapi nanti atau jangan"
Others: Cerpen Bella Ragazza
Setelah lama kebingungan merangkul adelio, akhirnya ia suarakan. Mungkin lebih baik. Tatkala pembicaraan itu, nizha langsung saja menanyakan tujuan apa yang diinginkan papanya, dengan menyuruh adelio? Menghilangkan sedih, pilu, yang selama ini bersamanya?. Papa seharusnya tau, nizha selalu, selalu menyimpan baik-baik rindunya untuk areez. Tak berubah. Tapi sayangnya ia memilih waktu yang salah, menelpon disaat papanya mengimplementasikan kendaraan beroda empat, bukan main papanya bak disambar petir, berakhir kehilangan keseimbangannya. Berakhir dirumah sakit, papanya dirawat. Malam penuh kalut, kenangan buruk, rasa sakit masa lalu, cukup sudah. Saat ini kukecup udara pagi, dengan sisa-sisa getir merangkap sukma. Sinar matahari tak pernah pudar, kalahkan semangatku.
"Nizha!" Suara ini sudah lama ku rindukan, sangat lama.
"Sarah"
"Cepetan mandi, katanya mau kerumah sakit" Disertai senyum khas miliknya
Hanya berbalaskan senyum nizha, gadis cantik terbalut luka dan air mata.
Setelah menunjukkan diri mereka didepan papa nizha, mereka pamit untuk bersandar pada udara luar.
"Sar, aku mau ketemu bunda"
"Bunda? "
"Bunda areez"
"Niz-"
"Aku kangen" Untuk seperkian detik sarah mengerti, dibalas anggukan sarah, mereka langsung menuju tujuannya.
" Ternyata gak sedikitpun kamu lepaskan, bahkan itu semua tak pernah terdengar karna ia bersembunyi dibalik senyummu niz" Lirih batin milik sarah
"Nizha"
"Bundaaa" Peluknya pada wanita tangguh itu
"Ada apa kesini, tiba-tiba lagi" Tanyanya ramah
"Kangen" Satu kata penuh makna
"Oalah, ini siapa nak? " Matanya menangkap wajah cantik sarah
"Ini teman nizha, sarah"
"Apa kabar tante"
"Alhamdulillah baik" Sarah mendapat sambutan berupa senyum hangat, sangat hangat, hingga mungkin belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Duduk, bunda bikinin teh dulu"
"Jangan repot repot tante"
"Enggak kok" Jawabnya sembari meninggalkan dua bersahabat itu.
"Kamu kangen areez ya? " Terbatuk-batuk nizha dibuatnya, bukan main dari mana orang tua ini tahu
"Dari mata kamu, kelihatan" Bingo, nizha tak bergerak dibuatnya
"Bunda harap semua berdiri tegar, ternyata sulit"
"Maaf bunda"
"Ada apa nizha"
"Sepertinya baru saja nizha tau bunda, mengapa tak semua raga menerima dewasa. Terdengar kepedihan di suaranya, senyum orang tua itu hadir diwajahnya.
" Bunda juga belum dewasa nizha, jika dibandingkan anak itu, menerima takdirnya tanpa keluh" Ucapnya bangga mengingat anak sulungnya.
Tak tahan lagi nizha menahan butir-butir air mata itu. Rindu itu menusuknya sangat dalam, terlalu dalam hingga batinnya hampir menyerah menampung makhluk egois itu. Sarah juga hancur dibuatnya, sekarang semuanya tak lagi bersembunyi dibalik senyummu niz.
"Maaf bunda" Isaknya. Biarkan, biarkan ia menangis, biarkan bundanya menyebarkan kehangatan miliknya dengan pelukan. Ternyata kehangatan ini turunan bundanya, hangatnya sama dengan milik areez, pria tangguh nan hangat yang sirna di bawa mengudara oleh Tuhannya.
Berawal langit mendulang awan, hingga langit mulai membumi, sang awan merenggut langit dengan saksama menjadikannya senja berbalut luka. Sepertinya areez tenang disana, aku bisa melihatnya, angkut rinduku memeluk mu, dia hak mu aku tak sanggup bercumbu lagi dengannya.
Sekali lagi. Maaf areez aku tak sekuat matahari yang merindukan bulannya.
Kau ku ikhlaskan. Pergilah.



1 comments
Wkwkwkw lagi dong kak
BalasHapus