SimbaQ

Hi! WISH WE FINE

Diberdayakan oleh Blogger.
  • About
  • Contact
  • Home
  • Beranda
  • Categories
  • Post Style
Dan aku akan mati menuju semenanjung, barangkali menjadi buih atau fenomena lainnya tetap saja aku akan hancur. Aku akan patah lagi. Kemudian dia akan datang dengan luka besar katanya dia habis menghantam karang lalu dia akan meringis sedikit lalu tertawa lagi dia bilang aku sudah sering. Sudah terbiasa. 
 Lalu aku akan hilang lagi menjadi bebatuan tajam di sungai yang tak pernah kau lihat karena jernih yang ia miliki karena aku akan menyakiti lagi. Dan kamu, kamu akan terbiasa lagi. 

Aku takut saat kamu bercerita tentang karang yang begitu besar dan kamu hampir saja di telan olehnya. Aku akan merasa bersalah di sana karena aku sudah lebih dulu menangisi jasadmu, padahal kamu bercerita dengan semangat hidup yang masih di beri kesempatan lagi. 


 Aku mau kamu tetap menjalani penyeberangan laut yang tidak pernah belah tapi setidaknya kamu tetap hidup dan itu yang utama, entah dengan kapal atau dengan tidak sama sekali aku mau kamu hidup, karena kamu harus tetap melanjutkan segala cerita yang aku potong setengahnya. Karena aku ; tiada. Tapi barangkali entah mana yang lebih dulu engkau sampai pada penyeberang mu atau kematianku. 

 Tetap aku akan mati menjadi buih sebelum- oh baju gantimu tetap aku bawa di tasku pakailah sebelum entah mana yang lebih dulu kering bajumu atau nyawaku. Aku takut jadi buih aku takut kamu akan menenggelamkan dirimu di sana karena kamu sudah lebih dulu tahu bahwa buih adalah sandaran ternyaman setelah di makan habis habisan karang. Tapi aku yang buih akan lebih dulu memberimu oksigen. 

 Kemudian kita akan berpisah lagi, disini, kau punya barangkali tidak kehidupanmu tapi akan aku usahakan kamu punya. Sedang aku sudah pasti mati. Aku akan berhenti. Tapi perjalanan mu akan panjang dan lama sekali. Aku ; di sini. Kau ; akan menangis dan terbiasa lagi.
  • 0 Comments

 




Terik matahari menyuasanai SMA 5 Sukabumi senin ini. Daun-daun dari pohon jambu jatuh berserakan terhembus angin, suara berisik warga SMA 5 saling berkicau, sebelum kembali senyap untuk jam pelajaran terakhir.

“Bu tati! ” sapa salah satu murid, namun tak ada balasan dari ujung

“Bu tatii..! ” kembali ia panggil dengan nada suara yang sedikit ditinggikan, tetap tak ada balasan

“Buuu taatiiii. ..!! ” oh no, kali ini suaranya ketinggian menjelajah ruang-ruang sekolah hingga lab biologi, untung saja patung disana tidak ada yang kaget, karna yang kaget tentu ibu tati itu sendiri.

“Bu tati, ada yang manggil” ucap murid yang sedang diajar bu tati

“Na? Kamu manggil aku? ”

“ka-kashia? ”

“kalian ngapain teriak² di luar? ”

“Lah… kok..bu tati?”

Kita akhiri saja kesalahpahaman hari itu, nanti si jesna jadi malu xixixi. “siapa sih yang tadi teriak nama bu tati?”

“Si jesna, purna OSIS”

“Mengalahkan toa suarana teh- loh kok maneh tau? ”

“aink kan bolos pelajaran bu tati, jangankan bu tati, aink nu keur modol ge kaget”

“geleuh maneh zlan” ezra ini memang tidak pernah mengaca idupnya

“kayak lu bersih aja kadal”

“azlan, ezra, entar voli yak”

“gak dulu aink ma ezra mau literasi ” azlan memang kerap kali mengikuti program literasi yang dibuat kakaknya untuk anak-anak yang tidak mampu bersekolah. Dimulai dengan 5-7 orang anak hingga kini, hanya bertambah satu. Namun itu pun sudah usaha, bersama temannya ezra mereka menjadi lebih perduli tentang orang-orang disekitarnya, terlebih anak² ini.

“Si ita mukanya gak asing” ucap azlan menyebut salah satu nama anak yang ada disana

“Gak asing? Mirip emak lu kali zlan”

“yeuuu.. Ku urang di babet iyeuh”

“eh tapi iya si, mirip….”

“kashia” jawab azlan dengan wajah senyum yang sedu

“Yeuu…ngajar lu sono, malah cinta-cintaan”

“lu gak ngerti si zra, mangkanya kalau main jangan sama laki mulu”

“selagi gak homo mah gak papa atuh” ucap ezra sembarang, memang pria satu ini sedikit trauma dengan wanita.

Matahari mulai menyembunyikan kehadirannya, esok adalah hari baru bagi semuanya.

“zra, entar kumpul ya OSIS” ini jesika, si ketos yang baik hati

“oke jes” ezra ini kebetulan koordinasi salah satu sekbid, entahlah saya tidak perduli

“Zra, voli te? ”

“OSIS”

“Butut ah” keluh azlan, “ eh tapi si kashia ikut? ” timbalnya

“Kayaknya” . Setahun yang lalu perasaan ini menemani hari-hari azlan tentang kashia, mantan ketos yg sekarang jadi purna.

“Ka kamu kumpul OSIS yaa” ketik azlan di layar siomay nya.

“Ya, ngapa? ”

“jangan lupa makan, entar tu maag kambuh, males aing bantuinnya lagi”

“sok peduli lu zlan” ya beginilah kashia agak pedas memang omongannya. Mereka dekat semenjak kashia tidak sengaja menolong azlan yang jatuh dari motornya, biasalah anak cowo. Kedekatan itu semakin dekat saat ezra menjadi jembatan bagi azlan untuk tahu apa saja yang di lakukan kashia. Main, nonton, nongkrong , bahkan berdebat, mereka melakukannya di 2 tahun belakangan ini, bukan waktu yang sebentar jika kita hitung.

“Kashia, aku suka sama kamu”

“uh?..” lawan bicaranya kebingungan

“gak papa, kalau kamu butuh waktu, tapi kashia, kamu tau persis kalau aku bukan cuma sekedar ngomong”

“berapa lama kamu bisa nunggu, Wildan? ”

“Secepatnya kalau bisa, aku gak mau berada di abu-abu terlalu lama” . Ironis, azlan kalah cepat. Apakah perasaan itu kini sia-sia?, apakah perasaan sukanya itu masih boleh ikut bersamanya?.

“zlan, literasi gak? ” sapa ezra, selepas bel pulang berdering. Tapi tak ada balasan dari sohibnya itu.

“Zlan”

“gak dulu zra, lu aja ” jawabnya sambil membelakangi ezra.

Dua minggu berlalu. Hari-hari yang terkutuk bagi azlan, dan selama 1 minggu pula ia tak memunculkan diri di sekolah, sesakit itu, seperih itu.

“Tok-tok” Pintu kamarnya diketuk. “ azlan, keluar siah, ngapain maneh di kamar terus, bertelur lu? ”

“diem, gak lucu, aink gak mau kemana-mana” jawabnya dari balik pintu. “sakit ni anak” Rika mengakhiri pembicaraannya dengan adik terakhirnya itu. “ting” . Suara notifikasi menggema kamarnya. “temanmu tampan? Rajin sekolah tidak? Tidak? Emhh BEBAN” begitulah isi pesannya. “lucu lu zra” balas azlan, untuk beberapa menit tidak ada balasan dari ezra, hanya tertinggal tanda 2 ceklik biru.

“keluar zlan, sini curhat ma aink” setelah 5 menit ezra kembali membalas pesannya. Azlan menurutinya, azlan tahu ezra sudah lama mengetahui keadaannya.

“aing sakit hati”

“tau, mangkanya lu gak sekolah, malah bertelur di kamar”

“si wildan nembak kashia”

“diterima? ”. Belum lagi dijawab, mereka melihat kashia dan wildan diatas motor meninggalkan mereka yang tak terlihat keberadaannya.

“Tuh, udah jelas” jawab azlan, sambil membaringkan tubuhnya di gazebo literasi, bersamaan dengan menutup wajahnya dengan topi miliknya.

“kashia suka sama lo zlan”

“lamun maneh tujuanna menghibur, mending belajar lagi deh”

“Tapi dia gak cinta sama lo”

“Diem deh zra, tambah nyeri nih hati aink”

“Serius aink zlan, dia suka sama maneh, tapi bukan maneh yang dia cari”

“sumpah, kenapa jadi lebih sakit, lamun maneh anu ngomongna” pembahasan tidak di lanjutkan oleh kedua belah pihak, ezra tak mau menambahkan dan azlan tak mau membicarakannya.

Esoknya azlan memberanikan diri masuk sekolah, patah hati boleh, bodoh jangan.

“huaahh, banyak juga aink ketinggalan pelajaran” keluh ezra menyesali. Bel istirahat kembali berdering, sudah lama tak di dengar azlan.

“Kemana aja maneh zlan”

“ kenapa Shia? Peduli lu?

“emosian nih, tapi aink beneran lu gak papa”

“Gak mungkin gak papa, kashia”

“zlan” suara kashia menjadi serius, azlan sadar hal itu

“gw tau lo suka sama gw, gw gak mungkin menutup mata tentang itu, tapi zlan, maaf, maaf karna gw udah berusaha untuk menerima kehadiran lo, tapi lagi, hati gw gak nerima”

“Untuk apa lo minta maaf atas perasaan gw sendiri? ”

“zlan, kantin yuk” yah, ezra mengacaukan pembicaraan penting ini.

“gw duluan shia, lo gak salah atas perasaan lo, begitu pula gw” . Inilah azlan aditya, sikecil yang berusaha menerima dan belajar dewasa.

“ Apapun itu, semoga yang terbaik” ucap azlan mengakhiri segalanya.


  • 0 Comments

 

   


"Stop" 

"You have to stop"

" Sejauh mana lagi kamu akan lari niz, ini membantu kamu? " Suaranya dirangkul khawatir

"Ngapain kamu di sini? " Geramnya

"Soal pena dari areez milik kamu , bukan aku yang ngambil "

"Tap-"

"Ini buktinya, kamu butuh itu kan" Suaranya terengah-engah, nafasnya memburu. Berlari sekitar 20 meter cukup membuatnya bak maling ingin ditangkap, bukan tanpa alasan, ia berlari mengejar sahabatnya. Mata gadis itu mulai meladeni layar gawai milik sarah, menyandingkan bukti video itu dengan kejadian yang ia alami. 

"Amel bilang dia gak sengaja ngeliat karen ngambil pena itu " Timpal sarah. 

Langsung saja gadis itu terduduk layu, lenyap tak bertenaga, selama ini ia salah menaruh kecewa. Video itu cukup menolak mentah-mentah prasangka buruknya pada sarah. Sarah tak salah, sahabatnya- tunggu apakah masih hak nizha mengatakan sarah Sahabatnya setelah kejadian ini?. Matanya sendu menahan butir air mata dari pelupuk mata. 

"Sarah... Maaf... " Suaranya hilang diujung kata. Kesal, geram, menyuasanai batinnya, belum lagi kepedihan yang papanya berikan merangkul dari belakang. Tapi sarah datang, sarah ada untuk menghancur lumatkan segalanya, ia bersedia memberikan hangatnya ditubuh sarah, melindungi dari segala keegoisan masalah yang merangkul dari berbagai arah. "Pluk" Sarah mendaratkan jaketnya di pundak nizha. " Dingin zha, yuk pulang" Ajaknya lembut. Berpayung langit malam berhiasi bintang, sarah menjangkau tangan mungil nizha seakan tak mau sahabatnya mengudara, lenyap tak bersuara. Ia tahu persis bukan tanpa alasan nizha seperti itu, seperti anak kecil tersesat, dengan segala cemas dan sedih yang ia bawa. Areez, semua karena pria itu. Pria yang tak begitu hebat, sosoknya juga tak begitu permai, tapi hangatnya, hangatnya mampu menerangi singgasana di setiap kerajaan. Bahkan nizha ingat betul kalimat areez yang masih tertinggal di benaknya. 

"Aku itu serupa bayangan, sulit kau jangkau, juga tak menyuguhkan apapun untukmu dan hidupmu, jadi tolong lenyapkan rasa itu dari ruang hatimu, nizha, mungkin sangat egois tapi tolong sertakan aku Dibahagiamu". Pedih. Mungkin ini sebabnya, mungkin ia sudah tahu ia akan pergi. Areez tak ingin menyakiti mereka, terlihat cinta miliknya tak egois. Cinta itu terlalu istimewa bagi areez. Terlebih cepat atau lambat ia akan berkelana dengan fase yang tak berujung. 


Others: AZLAN ADITYA



"Nizha..nizha sesak sekali ceritamu" Batinnya berujar. 

Sesekali bayang-bayang areez menyelimuti pikirannya, senyum, tawa, mata bulatnya, segala milik dan tentangnya. Biarlah, biarkan dia nizha, mengistirahatkan tubuh kuat miliknya untuk selamanya. "Selamat beristirahat.... Pulangku". Bisikku pada udara. 

"Kamu istirahat niz, jangan kayak tadi lagi, aku jadi olahraga malam-malam" Belum lagi kaki nizha menapak pintu pagar rumahnya, sarah sudah menjatuhkan ultimatumnya. 

"Sar.. Kalau ada kata yang mewakili ribuan maaf aku bisa mengatakanya beratusan kali, just for you"

"Sayangnya gak ada ya zha" Ejek sarah

Batin gadis itu tentram untuk beberapa lama setelah tahu ia tak sendiri lagi. 

Tersiar senyum di wajah keduanya. Nizha seharusnya tau sarah tak mahir dalam berlari, tapi bagaimanapun ia tahu Sahabatnya akan tulus melakukan itu untuknya. Cukup sudah nizha menitikberatkan beruntungnya ia memiliki sahabat bak karakter moana itu, ya tentu saja dengan keras kepalanya. Tapi bukankah seharusnya seperti itu, justru itu yang merealisasikan kata manusia yang hanyut dari sempurna. Penuh sudah hikayat malam ini, sarah membebaskan nizha untuk kemudian menghilangkan penatnya, biarkan permadani indah menyerap lelahnya dan sedihnya, walau tak ilang semalam. Berharap kepiluan hilang dalam semalam menjadikanmu makhluk individualis. 

"Zha, besok aku ikut ya jenguk papa kamu"

"Okee" Ketiknya di layar gawai

Nizha acap kali menyesali hari itu, hari di mana ia gagal berkrompomi dengan amarahnya sendiri. 

"Saya bingung, apa yang membuat papa kamu nyuruh saya deketin kamu"

"Papa? "

"Iya, tapi mungkin karena ini"

"Apa? "

"Kamu... Kuat, sangat kuat, papa kamu bilang kamu pernah kehilangan seseorang, saya bilang saya gak mau jadi penghibur, setelah beberapa lama ternyata kata 'Teman' lebih tepat untuk kita, karna kita berdua hanya mengagumi bukan mencintai"

"Adelio.. "

"Kalau mau sembuh, cari obatnya niz, bukan pasrah, mungkin boleh,tapi nanti atau jangan"


Others: Cerpen Bella Ragazza


 Setelah lama kebingungan merangkul adelio, akhirnya ia suarakan. Mungkin lebih baik. Tatkala pembicaraan itu, nizha langsung saja menanyakan tujuan apa yang diinginkan papanya, dengan menyuruh adelio? Menghilangkan sedih, pilu, yang selama ini bersamanya?. Papa seharusnya tau, nizha selalu, selalu menyimpan baik-baik rindunya untuk areez. Tak berubah. Tapi sayangnya ia memilih waktu yang salah, menelpon disaat papanya mengimplementasikan kendaraan beroda empat, bukan main papanya bak disambar petir, berakhir kehilangan keseimbangannya. Berakhir dirumah sakit, papanya dirawat. Malam penuh kalut, kenangan buruk, rasa sakit masa lalu, cukup sudah. Saat ini kukecup udara pagi, dengan sisa-sisa getir merangkap sukma. Sinar matahari tak pernah pudar, kalahkan semangatku. 

"Nizha!" Suara ini sudah lama ku rindukan, sangat lama. 

"Sarah" 

"Cepetan mandi, katanya mau kerumah sakit" Disertai senyum khas miliknya

Hanya berbalaskan senyum nizha, gadis cantik terbalut luka dan air mata. 

     Setelah menunjukkan diri mereka didepan papa nizha, mereka pamit untuk bersandar pada udara luar. 

"Sar, aku mau ketemu bunda"

"Bunda? "

"Bunda areez"

"Niz-"

"Aku kangen" Untuk seperkian detik sarah mengerti, dibalas anggukan sarah, mereka langsung menuju tujuannya. 

" Ternyata gak sedikitpun kamu lepaskan, bahkan itu semua tak pernah terdengar karna ia bersembunyi dibalik senyummu niz" Lirih batin milik sarah

"Nizha"

"Bundaaa" Peluknya pada wanita tangguh itu

"Ada apa kesini, tiba-tiba lagi" Tanyanya ramah

"Kangen" Satu kata penuh makna

"Oalah, ini siapa nak? " Matanya menangkap wajah cantik sarah

"Ini teman nizha, sarah"

"Apa kabar tante"

"Alhamdulillah baik" Sarah mendapat sambutan berupa senyum hangat, sangat hangat, hingga mungkin belum pernah ia rasakan sebelumnya. 

"Duduk, bunda bikinin teh dulu"

"Jangan repot repot tante"

"Enggak kok" Jawabnya sembari meninggalkan dua bersahabat itu. 

"Kamu kangen areez ya? " Terbatuk-batuk nizha dibuatnya, bukan main dari mana orang tua ini tahu

"Dari mata kamu, kelihatan" Bingo, nizha tak bergerak dibuatnya

"Bunda harap semua berdiri tegar, ternyata sulit"

"Maaf bunda"

"Ada apa nizha"

"Sepertinya baru saja nizha tau bunda, mengapa tak semua raga menerima dewasa. Terdengar kepedihan di suaranya, senyum orang tua itu hadir diwajahnya. 

" Bunda juga belum dewasa nizha, jika dibandingkan anak itu, menerima takdirnya tanpa keluh" Ucapnya bangga mengingat anak sulungnya.

Tak tahan lagi nizha menahan butir-butir air mata itu. Rindu itu menusuknya sangat dalam, terlalu dalam hingga batinnya hampir menyerah menampung makhluk egois itu. Sarah juga hancur dibuatnya, sekarang semuanya tak lagi bersembunyi dibalik senyummu niz. 

"Maaf bunda" Isaknya. Biarkan, biarkan ia menangis, biarkan bundanya menyebarkan kehangatan miliknya dengan pelukan. Ternyata kehangatan ini turunan bundanya, hangatnya sama dengan milik areez, pria tangguh nan hangat yang sirna di bawa mengudara oleh Tuhannya. 

Berawal langit mendulang awan, hingga langit mulai membumi, sang awan merenggut langit dengan saksama menjadikannya senja berbalut luka. Sepertinya areez tenang disana, aku bisa melihatnya, angkut rinduku memeluk mu, dia hak mu aku tak sanggup bercumbu lagi dengannya. 

Sekali lagi. Maaf areez aku tak sekuat matahari yang merindukan bulannya.

 Kau ku ikhlaskan. Pergilah.






 

  • 1 Comments
Beranda

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

  • Cerpen
  • Contact
  • Puisi

About Me

SimbaQ
Segala tentang keresahan yang dituangkan jadi tulisan. 
Read more >

recent posts

Labels

cerpen romansa (3) Horror (2) Kumpulan puisi (2) Narasi (1) puisi sedu (2) simbaQ (6) thriller (2)

Laporkan Penyalahgunaan

Keep Reading

Semenanjung

Search something!

Menu

  • About
  • Privacy policy
  • Disclaimer
  • Contact

instagram

Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top