SimbaQ

Hi! WISH WE FINE

Diberdayakan oleh Blogger.
  • About
  • Contact
  • Home
  • Beranda
  • Categories
  • Post Style
Dan aku akan mati menuju semenanjung, barangkali menjadi buih atau fenomena lainnya tetap saja aku akan hancur. Aku akan patah lagi. Kemudian dia akan datang dengan luka besar katanya dia habis menghantam karang lalu dia akan meringis sedikit lalu tertawa lagi dia bilang aku sudah sering. Sudah terbiasa. 
 Lalu aku akan hilang lagi menjadi bebatuan tajam di sungai yang tak pernah kau lihat karena jernih yang ia miliki karena aku akan menyakiti lagi. Dan kamu, kamu akan terbiasa lagi. 

Aku takut saat kamu bercerita tentang karang yang begitu besar dan kamu hampir saja di telan olehnya. Aku akan merasa bersalah di sana karena aku sudah lebih dulu menangisi jasadmu, padahal kamu bercerita dengan semangat hidup yang masih di beri kesempatan lagi. 


 Aku mau kamu tetap menjalani penyeberangan laut yang tidak pernah belah tapi setidaknya kamu tetap hidup dan itu yang utama, entah dengan kapal atau dengan tidak sama sekali aku mau kamu hidup, karena kamu harus tetap melanjutkan segala cerita yang aku potong setengahnya. Karena aku ; tiada. Tapi barangkali entah mana yang lebih dulu engkau sampai pada penyeberang mu atau kematianku. 

 Tetap aku akan mati menjadi buih sebelum- oh baju gantimu tetap aku bawa di tasku pakailah sebelum entah mana yang lebih dulu kering bajumu atau nyawaku. Aku takut jadi buih aku takut kamu akan menenggelamkan dirimu di sana karena kamu sudah lebih dulu tahu bahwa buih adalah sandaran ternyaman setelah di makan habis habisan karang. Tapi aku yang buih akan lebih dulu memberimu oksigen. 

 Kemudian kita akan berpisah lagi, disini, kau punya barangkali tidak kehidupanmu tapi akan aku usahakan kamu punya. Sedang aku sudah pasti mati. Aku akan berhenti. Tapi perjalanan mu akan panjang dan lama sekali. Aku ; di sini. Kau ; akan menangis dan terbiasa lagi.
  • 0 Comments

 




Terik matahari menyuasanai SMA 5 Sukabumi senin ini. Daun-daun dari pohon jambu jatuh berserakan terhembus angin, suara berisik warga SMA 5 saling berkicau, sebelum kembali senyap untuk jam pelajaran terakhir.

“Bu tati! ” sapa salah satu murid, namun tak ada balasan dari ujung

“Bu tatii..! ” kembali ia panggil dengan nada suara yang sedikit ditinggikan, tetap tak ada balasan

“Buuu taatiiii. ..!! ” oh no, kali ini suaranya ketinggian menjelajah ruang-ruang sekolah hingga lab biologi, untung saja patung disana tidak ada yang kaget, karna yang kaget tentu ibu tati itu sendiri.

“Bu tati, ada yang manggil” ucap murid yang sedang diajar bu tati

“Na? Kamu manggil aku? ”

“ka-kashia? ”

“kalian ngapain teriak² di luar? ”

“Lah… kok..bu tati?”

Kita akhiri saja kesalahpahaman hari itu, nanti si jesna jadi malu xixixi. “siapa sih yang tadi teriak nama bu tati?”

“Si jesna, purna OSIS”

“Mengalahkan toa suarana teh- loh kok maneh tau? ”

“aink kan bolos pelajaran bu tati, jangankan bu tati, aink nu keur modol ge kaget”

“geleuh maneh zlan” ezra ini memang tidak pernah mengaca idupnya

“kayak lu bersih aja kadal”

“azlan, ezra, entar voli yak”

“gak dulu aink ma ezra mau literasi ” azlan memang kerap kali mengikuti program literasi yang dibuat kakaknya untuk anak-anak yang tidak mampu bersekolah. Dimulai dengan 5-7 orang anak hingga kini, hanya bertambah satu. Namun itu pun sudah usaha, bersama temannya ezra mereka menjadi lebih perduli tentang orang-orang disekitarnya, terlebih anak² ini.

“Si ita mukanya gak asing” ucap azlan menyebut salah satu nama anak yang ada disana

“Gak asing? Mirip emak lu kali zlan”

“yeuuu.. Ku urang di babet iyeuh”

“eh tapi iya si, mirip….”

“kashia” jawab azlan dengan wajah senyum yang sedu

“Yeuu…ngajar lu sono, malah cinta-cintaan”

“lu gak ngerti si zra, mangkanya kalau main jangan sama laki mulu”

“selagi gak homo mah gak papa atuh” ucap ezra sembarang, memang pria satu ini sedikit trauma dengan wanita.

Matahari mulai menyembunyikan kehadirannya, esok adalah hari baru bagi semuanya.

“zra, entar kumpul ya OSIS” ini jesika, si ketos yang baik hati

“oke jes” ezra ini kebetulan koordinasi salah satu sekbid, entahlah saya tidak perduli

“Zra, voli te? ”

“OSIS”

“Butut ah” keluh azlan, “ eh tapi si kashia ikut? ” timbalnya

“Kayaknya” . Setahun yang lalu perasaan ini menemani hari-hari azlan tentang kashia, mantan ketos yg sekarang jadi purna.

“Ka kamu kumpul OSIS yaa” ketik azlan di layar siomay nya.

“Ya, ngapa? ”

“jangan lupa makan, entar tu maag kambuh, males aing bantuinnya lagi”

“sok peduli lu zlan” ya beginilah kashia agak pedas memang omongannya. Mereka dekat semenjak kashia tidak sengaja menolong azlan yang jatuh dari motornya, biasalah anak cowo. Kedekatan itu semakin dekat saat ezra menjadi jembatan bagi azlan untuk tahu apa saja yang di lakukan kashia. Main, nonton, nongkrong , bahkan berdebat, mereka melakukannya di 2 tahun belakangan ini, bukan waktu yang sebentar jika kita hitung.

“Kashia, aku suka sama kamu”

“uh?..” lawan bicaranya kebingungan

“gak papa, kalau kamu butuh waktu, tapi kashia, kamu tau persis kalau aku bukan cuma sekedar ngomong”

“berapa lama kamu bisa nunggu, Wildan? ”

“Secepatnya kalau bisa, aku gak mau berada di abu-abu terlalu lama” . Ironis, azlan kalah cepat. Apakah perasaan itu kini sia-sia?, apakah perasaan sukanya itu masih boleh ikut bersamanya?.

“zlan, literasi gak? ” sapa ezra, selepas bel pulang berdering. Tapi tak ada balasan dari sohibnya itu.

“Zlan”

“gak dulu zra, lu aja ” jawabnya sambil membelakangi ezra.

Dua minggu berlalu. Hari-hari yang terkutuk bagi azlan, dan selama 1 minggu pula ia tak memunculkan diri di sekolah, sesakit itu, seperih itu.

“Tok-tok” Pintu kamarnya diketuk. “ azlan, keluar siah, ngapain maneh di kamar terus, bertelur lu? ”

“diem, gak lucu, aink gak mau kemana-mana” jawabnya dari balik pintu. “sakit ni anak” Rika mengakhiri pembicaraannya dengan adik terakhirnya itu. “ting” . Suara notifikasi menggema kamarnya. “temanmu tampan? Rajin sekolah tidak? Tidak? Emhh BEBAN” begitulah isi pesannya. “lucu lu zra” balas azlan, untuk beberapa menit tidak ada balasan dari ezra, hanya tertinggal tanda 2 ceklik biru.

“keluar zlan, sini curhat ma aink” setelah 5 menit ezra kembali membalas pesannya. Azlan menurutinya, azlan tahu ezra sudah lama mengetahui keadaannya.

“aing sakit hati”

“tau, mangkanya lu gak sekolah, malah bertelur di kamar”

“si wildan nembak kashia”

“diterima? ”. Belum lagi dijawab, mereka melihat kashia dan wildan diatas motor meninggalkan mereka yang tak terlihat keberadaannya.

“Tuh, udah jelas” jawab azlan, sambil membaringkan tubuhnya di gazebo literasi, bersamaan dengan menutup wajahnya dengan topi miliknya.

“kashia suka sama lo zlan”

“lamun maneh tujuanna menghibur, mending belajar lagi deh”

“Tapi dia gak cinta sama lo”

“Diem deh zra, tambah nyeri nih hati aink”

“Serius aink zlan, dia suka sama maneh, tapi bukan maneh yang dia cari”

“sumpah, kenapa jadi lebih sakit, lamun maneh anu ngomongna” pembahasan tidak di lanjutkan oleh kedua belah pihak, ezra tak mau menambahkan dan azlan tak mau membicarakannya.

Esoknya azlan memberanikan diri masuk sekolah, patah hati boleh, bodoh jangan.

“huaahh, banyak juga aink ketinggalan pelajaran” keluh ezra menyesali. Bel istirahat kembali berdering, sudah lama tak di dengar azlan.

“Kemana aja maneh zlan”

“ kenapa Shia? Peduli lu?

“emosian nih, tapi aink beneran lu gak papa”

“Gak mungkin gak papa, kashia”

“zlan” suara kashia menjadi serius, azlan sadar hal itu

“gw tau lo suka sama gw, gw gak mungkin menutup mata tentang itu, tapi zlan, maaf, maaf karna gw udah berusaha untuk menerima kehadiran lo, tapi lagi, hati gw gak nerima”

“Untuk apa lo minta maaf atas perasaan gw sendiri? ”

“zlan, kantin yuk” yah, ezra mengacaukan pembicaraan penting ini.

“gw duluan shia, lo gak salah atas perasaan lo, begitu pula gw” . Inilah azlan aditya, sikecil yang berusaha menerima dan belajar dewasa.

“ Apapun itu, semoga yang terbaik” ucap azlan mengakhiri segalanya.


  • 0 Comments




 

LENGKARA

 

Ku tarik beberapa carik rindu

Sering kali bertanya

Sering kali terluka

Dan terus diulanginya

 

Indah sekali rekaan

Sesaat menikmatinya selesa

Di bawah angan-angan lengkara

Namun tak apa, cukup gembira

 

Diujung cerita aku kalah

Terhimpit pertanda

Fatwa menampik suka

Kita bukan lagi sama

 

Tawanya didepan mata

Raganya jauh terpisah

Asing baginya batang tubuhku

Tepat disampingku, dia lewat dengan harum yang sama

 

Others: KUMPULAN PUISI

 

GADIS KECIL

 

“Ke mana kau akan pergi?”

Jauh, sangat jauh

Tempat di mana lelah tak ada

Duka ditelan habis-habisan di sana

 

Malang, gadis kecil dirampas

Yang satunya lagi memandang tak ikhlas

Merintih perih, meminta sahabatnya pulih

Jauh, diliang bawah tanah dia terjatuh

 

Sela-sela tangisnya ada rasa peluk

Hangat menyeruak lubuk

“Kau kembali? ” sahabatnya merintih

Meminta tak usah pergi

 

“Jaga separo jiwaku yang ku taruh di sini”

Telunjuk kecilnya memberi aba

Hanyut dilautan bintang tak alasan

Bahwa jiwanya masih ada di sini

 

 

MEREKA

 

Bercerita tentang bulan dan matahari

Terasing satu sama lain

Terpenjara zona masing-masing

Diikat bingkai masa

 

Harmoni tertanam menyelami

Senyap, sunyi hadiahi hari-hari

Saling menyimpang, seperti mengejar pantulan

Bahkan tak ada ungkapan selamat tinggal

 

Bukti cinta meretas jiwa siapa pun

Bergandengan bukan alasannya

Matahari pun tak pernah merengkuh bintangnya

Merongkah stigma, bahwa cinta harus bersama

 


 

 

 

 

 

  • 0 Comments

 







“Lucaass...”

Kali ini cerita diawali dengan teriakan. Sepasang manusia berlari kesana-kemari seperti anak kecil yang tak dijerat beban pikiran. Nikmat sekali

“Hahaha.....kamu sangat lama, gunakan kakimu jika mau berlari”

“Cih, dasar” Dibuatnya kesal wanita itu. Satu tahun? Atau dua tahun mereka sudah bersama? Entahlah, mereka hanya menikmatinya. Waktu tak berimbas pada sesiapa yang berbahagia

“Mau aku belikan es krim? ”Yang pria sibuk merawat wanitanya

“Tidak mau! ” wanitanya sibuk bercumbu amarah sendiri

“Jangan gitu dong sin, aku Cuma bercanda”

“Yasudah, es krim rasa vanila ya”

“okee...” Ditatapnya dalam dalam pundak pria yang sudah membelakanginya “sangat tampan, dilihat dari belakang pun” tentu saja pujian itu untuk prianya. Bukan dusta, memang benar yang dia katakan, pria itu tinggi dan kuat bak raksasa saja, seringkali takut wanita itu dibuatnya.

“Sin, kamu besok sibuk tidak? ”

“kenapa? ” cemong gaya bicaranya lantaran es krim yang ada dimulutnya

“aku mau ajak kamu jalan-jalan lagi” Dasar remaja, tak kan pernah kenyang nafsumu walau diberi makan berjuta kalipun

“eumm....harus banget besok? ”

“kenapa? ”

“enggak, aku hanya ingin istirahat saja besok, hari ini sangat menyenangkan, sudah cukup kurasa”

“baiklah, aku antar kamu pulang sekarang”

“okeee....ayoo...kita pulang bersama lucaass.....” peliknya menerangi langit yang sebentar lagi kelam

“Lucas, besok aku harus ke kampus, kamu bisa anterin gak? ”  ketiknya dibalik layar gawai

Kenapa nanya? Aku akan anterin,jam berapa? ”. Oke sampai situ aja, kalian akan iri jika pesan-pesan itu dituliskan

Esoknya, matahari tak letih-letih nya memajang awaknya di sebagian langit


Others: AZLAN ADITYA


“Lucas, jika ada orang yang suka dengan ku, apa yang kamu lakukan? ” hanya ada matahari, tak ada hujan, angin dan badai, tiba-tiba saja dia tanyakan pertanyaan aneh itu

“Eumm....kenapa?  Mungkin aku akan ajak dia melukis, aku akan ajarkan dia cara melukis yang benar. 

Jantung wanita itu hampir berhenti “melukis? ” ucap batinya

“Beneran? ” tanya ia lagi, memastikan pada lawan bicaranya

“bwahahaha.....percaya aja sih, aku cuma bercanda” diikuti gelaknya yang tak bermakna

Sesaat, lega batin wanita itu, tetapi timbul ketakutan, entah apa padahal pacarnya hanya bercanda

Seminggu berlalu, tak ada yang berubah, hanya satu jikapun ada,itu pacarnya, seringkali Sinta asing dengan sikap pacarnya, akhir-akhir ini, lebih sering diam dan marah

“Lucas, kamu marah padaku? ”

“entah” jawabnya kasar, menunjukkan tak ada niat menjawab wanita itu

“Lucaass....maaf ya, aku salah” dibuai-buai tangan besar pacarnya

“manja sekali, aku tidak suka, lepaskan” suaranya cukup menakutkan untuk Sinta, di tambah postur tubuh yang sangat besar

“Aku mau pergi, kamu pulang saja” Lucas segera menjangkau jaket kulit warna hitam tebal yang dihiasi kancing berkilau miliknya. Tak mau diam saja, Sinta diam-diam mengikuti lucas, kecurigaan seringkali menjadi tamu utama hatinya akhir-akhir ini.

Sepanjang perjalanan, tempat-tempat ini tak dia kenali, seperti desa mati, ditempati rumah-rumah tak berpenghuni. Sinta melihat lucas berjalan masuk kedalam rumah yang di alih fungsikan menjadi gudang terbengkalai. “Brak” hampir dia teriak lantaran kaget, suara itu berasal dari gudang

“Kau pikir, kau bisa lari? Bodoh” suaranya menjajah ruangan penuh debu itu

“Lepasin saya lev” ada satu lagi suara seperti orang tak di beri makan berbulan-bulan sangat lemah, atau hampir mati

“lepasin? Hey, dengar si bodoh bau bangkai, mati saja kau”

“ Arrghh.... Sakit, lepasin levi” jerit pria lemah itu, sepertinya rambutnya dijambak keras-keras

“levi? ” Sinta mengintip dibalik meja-meja rapuh yang tepat di belakang kedua pria itu

“Kamu sudah memiliki Sinta, dan saya sudah tak peduli, apalagi sekarang, lepaskan saya levi”

Terusmenerus dia memohon-mohon seperti tak ada lagi harga diri. 

"Sinta?" Batin Sinta bertanya. Sinta sulit mengenali wajah pria lemah itu, karena pria itu di diikat pada kursi yang mengarah pacarnya

“Kau pikir aku mau? Kau pikir aku bodoh? Hah? ” suaranya melengking ke mana-mana

“Kemanapun kau pergi, dia selalu mencarimu jika dia tau kau suka padanya, dia!...akan terus memikirkanmu, dia jug- ah, sakit hatiku memikirkannya”

“levi, kau adikku, aku kembaranmu, apa kau tak mengasihaniku? ”

“deg”

“levi? Lucas?m-mereka kemb-baran?” hanya hatinya yang mampu berbicara, jantungnya berlari begitu cepat, ditambah rasa takut di sekujur tubuh. Jadi selama ini pria yang dia pacari bukan Lucas?

“Kau terus saja seperti itu lucas”

“deg” lagi, Sinta terus merasakan darahnya begitu cepat mengalir, ia amat ketakutan

“dari dahulu, tak pernah berubah, memelas kasih orang lain”

“tetapi Lucas, aku sudah muak, kita akhiri saja”

“tidak, jangan, luca-ah tidak levi, entahlah siapa pun kau, jangan lakukan itu! ” batin Sinta kembali bergusar. Sinta yang malang cepat kau keluar dari tempat itu. Sementara levi mengeluarkan beberapa alat pemotong yang tajam, mengkilap

“Lehermu sasarannya Lucas” bicaranya lembut dan mematikan, senyumnya, senyum yang di perlihatkan hanya untuk kakaknya, lebih tepatnya senyum spesial miliknya untuk korbannya. 


Others: BELLA RAGAZZA


“jangan, levi jangan, dengarkan saya, saya akan pergi jauh, saya janji” pada satu sisi pria lemah ini terus memelas kasih

“hahaha......dengan ini kau akan pergi jauh, sangat jauh lucas... "

“srek.....tuk....tuk.....tuk”

“l-le-pas.......k-kepalanya.....” suaranya hilang disekat debu dan ketakutan. Sempoyongan dia berusaha lari, meloloskan diri dari psikopat ini, karena bisa saja dia dibunuh dengan cara yang sama, bahkan lebih.

Sial!, kakinya tidak bisa di ajak kompromi, kakinya gemetar kemas, ruang- ah gudang ini sangat gelap, penuh dengan barang-barang kotor, berdebu, panas dan pengap "aku hampir Pingsan".

Dengan penuh tekanan, Sinta berhasil kabur dan keluar dari neraka itu. Berlari sekencang-kencangnya walau tak bertujuan

“Sinta?” oh tidak, belum lagi Sinta keluar dari pintu masuk satu-satunya itu, luc-levi melihatnya, sembari membersihkan tangannya yang 'kotor'

“Sinta!.....sinta! ” diteriakinya wanita itu, sementara Sinta tergopong-gopong berlari bersama akal dan pikirannya yang terbang pergi jauh entah di bawa ke mana. Yang dia tahu dia hanya “harus lari sejauh mungkin”

“aish! Mengapa sih dia? ” berangnya

“Sinta!” mulai dia mengejar wanita yang dia pacari, wanita yang digemari kakaknya sendiri

“Brak...”

Hancur, organ tubuhnya memisah satu sama lain. Mobil truk besar menghantam nya dari samping, sementara Sinta tak menoleh sedikitpun, hanya terus berlari.

Satu bulan berlalu, Sinta seperti orang paranoid yang selalu di buai ketakutan dan rasa bersalah. Jam menampakkan satu pukul tiga puluh, obat yang diberikan dokternya tak mampu memberi rasa kantuk. Beberapa saat mulai dia merinding, entah mengapa, hanya saja seperti ada yang ingin datang

“tok......tok....tok”

“deg” “ibu? Kau di sana?”

“Ibu? ”

“Sinta”

“deg” suara ini, pria itu, mulai tubuhnya gemetar hebat berkeringat di segala bagian tubuh

“siapa?”

“Ini aku, Lucas”

“deg.....deg....deg”

“aku tidak ingin mengganggumu, aku hanya ingin minta tolong, tolong kuburkan aku dengan baik dan layak” suaranya hilang di balik pintu, lalu Sinta menangis sejadi-jadinya

 

 

 

 

  • 0 Comments

       


 

Mahkota Jiwa

 

Tuhan ambil mahkota jiwa

Disambut awan menyongsong bentala

Taburi lara pada hambanya

Tuhan....mengapa?

 

Kalahkah aku lawan pemberontak dahulu

Hingga kau jadikan dia tawanan

Atau pernahkah ku rebut milik-Mu

Hingga dia kau taklukkan

 

Senyum megah, mata elok, disertai bibir manis

Seluruhnya terlepas dalam dekapku

Sel-sel tubuhku mati tak bernafas

Atas sirnanya pangeranku

 

 Others: CERPEN SWEET PEA


                       
Terpeluk Angan

 

Tak ada istimewa tentangnya

Sosoknya tanpa kata sempurna

Lucunya, hatiku mendekap rasa untuknya

Mengail rindu pada akhirnya

 

Menjerat sukma, memeras hati

Terperangkap intuisi sendiri

Dari jauh, raga dan jiwanya ku rangkul

Harapan sekaligus angan teguh memanggil

 

Angan yang terbukti lengkara

Tertolak rasa dan jiwanya

Hanya dapat dipegang dalam fiksi

Sekiranya hati mengikhlaskan pergi

 

   Others: BEBERAPA PUISI


Ditusuk Rindu

 

Ruang-ruang rindu penjarakan jiwa sendiri

Dilahap makhluk tak bersosok

Semarak membangkang makhluk egois

Dijerat ketat menusuk relung

 

Siapa sibodoh pemilik rindu ini

Tak tahukah dia hampir mati ragaku

Dibeku tak bercelah, mati diracuni

Satu, dua bisa saja retak ragaku

 

Lagi, rindu kembali mengaliri darah

Menyapa sel-sel tubuh yang robek

Masuk merangkap sanubari

Terakhir, ditikam perlahan hingga remuk

 

  • 0 Comments





Siul-siul burung mewarnai udara pagi, disambut permai matahari pagi. Diguyur semangat hari baru

“ Wiyyaaam... Kamu jadi kerja gak?” pekik wanita paruh baya, terlihat ikut mewarnai suasana pagi.

“Iya, nican” Aku sendiri menyadari panggilan asing itu. Nican, nini cantik, tetapi aku suka, nican juga rela saja dipanggil begitu. Jam memajang antara angka 6 dan 7. Sudah waktunya berangkat kerja.

“Tin-tin”

“Wiyaam, cewek sinting keluar lo”

“Gak ada adab banget mulutnya” Geram gadis itu

“Lagian suka banget telat, pacaran kalian” oloknya lagi

“mulut lo tuh, gw mandiin bunga 7 rupa tau rasa lo” tak saling kalah keduanya asyik saja melempar guyonan

“winesh, cepet kalian pergi, sakit telinga nican dibuatnya” Rupanya orang tua itu ikut menambah kebisingan.

“nicaan....aaa kangen” lentur badanya memeluk wanita tua itu

“Dih, paan jamet”

“nican kalau capek ngurus wiyyam, kirim ke panti jompo aja langsung” bisik winesh, bak sahabat saja dibuatnya orang tua itu. Di akhiri tawa dari keduanya, sampailah wiyyam dan winesh pada tujuan mereka.

“berdua mulu, gak sekalian bikin buku nikah”

“mirip lagi” keduanya diceng-cengi oleh sahabat se pekerjaannya, argh baru juga sampai. Tak heran selain nama, wajah keduanya pun terlihat mirip.

“Mau makan enak aja harus maksa temennya nikah”

“semur daging wkwkwk” ejek balik keduanya, tak kenal kalah. Terlihat geram diwajah berry, pria pecinta gosip. Kesibukan mulai menyuasanai kafe, wajah pekerjaan keras terbias pada ke-empatnya. 2 bulan, 2 bulan pas ke-empatnya mencucurkan keringat di tempat ini. Segenap haru,duka, geram, dan girang sudah jauh menyelami ke-empatnya. Perasaan buncah, gelisah, yang selama ini merangkul mereka tentang kafe ini, tak terlihat ada, atau mungkin di abaikan ke-empatnya.

“nicaaann..... Wiyyam pulang” lelah.sangat pasti. Pergi pagi, pulang malam, sudah jadi makanan sehari-hari tubuhnya

“Makan dahulu wiyyam, nican masakin soto favoritmu” bak memperoleh ilham, sel-sel tubuhnya kembali bernafas. Nicannya ibarat tabir penumpas letih, tahu banget cara mengusir penat cucu bunga hatinya. Sebarang waktu hatinya terenyuh, gadis seusianya harus menghidupi diri sendiri, ditambah nicannya. Orang tuanya telah lama tinggal di antara bintang.

“guys, besok kafe tutup, kita nyiapin semua perlengkapan kafe doang”

“tumbenan, ada acara apa Rin?”

“gak tau, kali si bos dapat hidayah jodohin si wiyam ma wines”

“si berry badannya suka gatal kalau gak julid sehari” ketik wiyyam berang, hanya saja tertahan layar gawai miliknya.

“kafe kita di boking buat acara, ultah? Atau perayaan karyawan gitu, gak tau deh”

“eumm gitu oke deh rin”

“sok kul banget wiyam” imbuh winesh. Namun wiyyam tak mau memperpanjang, karena tubuhnya juga lelah, wiyam mematikan gawainya, rebahkan penatnya, sembuhkan semangatnya.

“Tring-tring” sudah tanggung jawab alarm membangunkan tuannya tepat waktu. Akibatnya pagi kali ini tak disertai ocehan nicannya.

Apik, elok, penampilannya, tertata rapi.

“ah kaget”

“nicann!” berangnya

“hahaha tumben udah cantik” Oloknya

“udah ah wiyam berangkat dahulu” timbul cemberut lucu cucunya

“miy-”

“apa! ” gertaknya

“Kaget, belum lagi selesai gw teriaknya”

“jamet, buruan jalan”


Others: KUMPULAN PUISI


      Waktu berjalan semestinya, hingga malam menerobos  masuk tanpa aba-aba, udara sejuknya menusuk raga-raga remaja ini, kecuali winesh dia sudah tua. Namun ada yang aneh sedari tadi bagi wiyyam, dirasanya ada sosok yang terus mengintai.dari balik pintu menuju gudang. ah sudahlah mungkin lelahnya menghasilkan halusinasi.

“berapa banyak si umatnya” Keluh carina

“tumben mak Lampir ngeluh”

“mulut lo tu ya ber” batinnya kesal

“eh kalau di liat liat ni kafe angker juga wkwkw” ucap winesh sembrono

“hush, jangan mancing-mancing deh win”

“tau, sok berani banget”

“entar makhluknya nongol nangis” ejek Berry tak mau ketinggalan

“udah ah, merinding gw”  wiyyam takut akan candaan temanya sendiri

“yaudah, gw cek gudang dahulu”

“Hati-hati lo nes” Berry menakut-nakuti

“gw temenin deh” carina menawarkan diri. Setelah lama, kesunyian mulai terasa di keduanya, riuh terik siang hari seolah dilahap habis oleh malam, mencekam. Setelah lama diam,mulai terasa canggung- bukan,tetapi sunyi. Rasa sunyi itu mulai ikut meringkup ruang-ruang kafe ini. “Gubrak” “carin larii!! ”

“ber, winesh kenapa?” panik, wiyyam bergidik ketakutan.


Others: Siapa? Ini Aku Lucas


Hilang, dentuman serta pekik jerit winesh hilang mendadak. Tak banyak omong berry mengenggam erat wiyyam, sahabat yang dianggap adik olehnya tak boleh lenyap pikirnya. Satu langkah menuju gudang, dua langkah, tiga langkah, empat, lima- “trek”. Mati, semuanya mati, tak satupun lampu hidup.

“ber” bisik wiyyam pelan, sangat,hingga samar terdengar, tak ingin 'sesuatu' mendengarnya yang dia pun tak tahu. “tunggu, carina?” pekik berry memastikan “ngapain di sana? Yam tunggu di sini, aku jemput carin” ragu wiyyam melepas genggamannya, namun harus. “Hati-hati ber” ucap sekaligus doanya. “Trek” ah syukur lamp- tunggu “berry! Carina! Kalian di mana?”

“Trek” lagi, bodoh, siapa sijahil yang terus memainkan sakelar lampu. “Trek” mampus.....,wiyyam bawa dirimu keluar dari sana segera. “carina?” suaranya gemetar, “ngapain megang tangan aku?” tangan carina seketika merangkul tangan kecil milik wiyyam, sangat dingin. “Berry sama winesh ke mana? Tadi kalian kenapa di gudang? ” tanyanya bertubi-tubi dengan mulut terbata, wajah bias memucat. Tak ada jawaban dari seberang. Heran wiyyam di buatnya. “tunggu, tangan kamu kok ba- “Trek” sah. Senyum, wajahnya tersenyum. Gila. “lari wiyyam lari!! Dia bukan carina” pekik jeritnya pada diri sendiri.

“cafenya tutup ya? ”

“ Iya, udah semingguan”

"Kok agak ngeri ya cafe nya? Apa perasaan aku aja? "

"Loh, aku pikir aku doang yang ngerasa begitu"

“denger-denger orang yang pertama kali bangun kafe ini, bunuh diri di gudang”

“hah? Seriusan? Siapa memangnya? ”

“Bella Ragazza”.

 


  • 1 Comments

 

   


"Stop" 

"You have to stop"

" Sejauh mana lagi kamu akan lari niz, ini membantu kamu? " Suaranya dirangkul khawatir

"Ngapain kamu di sini? " Geramnya

"Soal pena dari areez milik kamu , bukan aku yang ngambil "

"Tap-"

"Ini buktinya, kamu butuh itu kan" Suaranya terengah-engah, nafasnya memburu. Berlari sekitar 20 meter cukup membuatnya bak maling ingin ditangkap, bukan tanpa alasan, ia berlari mengejar sahabatnya. Mata gadis itu mulai meladeni layar gawai milik sarah, menyandingkan bukti video itu dengan kejadian yang ia alami. 

"Amel bilang dia gak sengaja ngeliat karen ngambil pena itu " Timpal sarah. 

Langsung saja gadis itu terduduk layu, lenyap tak bertenaga, selama ini ia salah menaruh kecewa. Video itu cukup menolak mentah-mentah prasangka buruknya pada sarah. Sarah tak salah, sahabatnya- tunggu apakah masih hak nizha mengatakan sarah Sahabatnya setelah kejadian ini?. Matanya sendu menahan butir air mata dari pelupuk mata. 

"Sarah... Maaf... " Suaranya hilang diujung kata. Kesal, geram, menyuasanai batinnya, belum lagi kepedihan yang papanya berikan merangkul dari belakang. Tapi sarah datang, sarah ada untuk menghancur lumatkan segalanya, ia bersedia memberikan hangatnya ditubuh sarah, melindungi dari segala keegoisan masalah yang merangkul dari berbagai arah. "Pluk" Sarah mendaratkan jaketnya di pundak nizha. " Dingin zha, yuk pulang" Ajaknya lembut. Berpayung langit malam berhiasi bintang, sarah menjangkau tangan mungil nizha seakan tak mau sahabatnya mengudara, lenyap tak bersuara. Ia tahu persis bukan tanpa alasan nizha seperti itu, seperti anak kecil tersesat, dengan segala cemas dan sedih yang ia bawa. Areez, semua karena pria itu. Pria yang tak begitu hebat, sosoknya juga tak begitu permai, tapi hangatnya, hangatnya mampu menerangi singgasana di setiap kerajaan. Bahkan nizha ingat betul kalimat areez yang masih tertinggal di benaknya. 

"Aku itu serupa bayangan, sulit kau jangkau, juga tak menyuguhkan apapun untukmu dan hidupmu, jadi tolong lenyapkan rasa itu dari ruang hatimu, nizha, mungkin sangat egois tapi tolong sertakan aku Dibahagiamu". Pedih. Mungkin ini sebabnya, mungkin ia sudah tahu ia akan pergi. Areez tak ingin menyakiti mereka, terlihat cinta miliknya tak egois. Cinta itu terlalu istimewa bagi areez. Terlebih cepat atau lambat ia akan berkelana dengan fase yang tak berujung. 


Others: AZLAN ADITYA



"Nizha..nizha sesak sekali ceritamu" Batinnya berujar. 

Sesekali bayang-bayang areez menyelimuti pikirannya, senyum, tawa, mata bulatnya, segala milik dan tentangnya. Biarlah, biarkan dia nizha, mengistirahatkan tubuh kuat miliknya untuk selamanya. "Selamat beristirahat.... Pulangku". Bisikku pada udara. 

"Kamu istirahat niz, jangan kayak tadi lagi, aku jadi olahraga malam-malam" Belum lagi kaki nizha menapak pintu pagar rumahnya, sarah sudah menjatuhkan ultimatumnya. 

"Sar.. Kalau ada kata yang mewakili ribuan maaf aku bisa mengatakanya beratusan kali, just for you"

"Sayangnya gak ada ya zha" Ejek sarah

Batin gadis itu tentram untuk beberapa lama setelah tahu ia tak sendiri lagi. 

Tersiar senyum di wajah keduanya. Nizha seharusnya tau sarah tak mahir dalam berlari, tapi bagaimanapun ia tahu Sahabatnya akan tulus melakukan itu untuknya. Cukup sudah nizha menitikberatkan beruntungnya ia memiliki sahabat bak karakter moana itu, ya tentu saja dengan keras kepalanya. Tapi bukankah seharusnya seperti itu, justru itu yang merealisasikan kata manusia yang hanyut dari sempurna. Penuh sudah hikayat malam ini, sarah membebaskan nizha untuk kemudian menghilangkan penatnya, biarkan permadani indah menyerap lelahnya dan sedihnya, walau tak ilang semalam. Berharap kepiluan hilang dalam semalam menjadikanmu makhluk individualis. 

"Zha, besok aku ikut ya jenguk papa kamu"

"Okee" Ketiknya di layar gawai

Nizha acap kali menyesali hari itu, hari di mana ia gagal berkrompomi dengan amarahnya sendiri. 

"Saya bingung, apa yang membuat papa kamu nyuruh saya deketin kamu"

"Papa? "

"Iya, tapi mungkin karena ini"

"Apa? "

"Kamu... Kuat, sangat kuat, papa kamu bilang kamu pernah kehilangan seseorang, saya bilang saya gak mau jadi penghibur, setelah beberapa lama ternyata kata 'Teman' lebih tepat untuk kita, karna kita berdua hanya mengagumi bukan mencintai"

"Adelio.. "

"Kalau mau sembuh, cari obatnya niz, bukan pasrah, mungkin boleh,tapi nanti atau jangan"


Others: Cerpen Bella Ragazza


 Setelah lama kebingungan merangkul adelio, akhirnya ia suarakan. Mungkin lebih baik. Tatkala pembicaraan itu, nizha langsung saja menanyakan tujuan apa yang diinginkan papanya, dengan menyuruh adelio? Menghilangkan sedih, pilu, yang selama ini bersamanya?. Papa seharusnya tau, nizha selalu, selalu menyimpan baik-baik rindunya untuk areez. Tak berubah. Tapi sayangnya ia memilih waktu yang salah, menelpon disaat papanya mengimplementasikan kendaraan beroda empat, bukan main papanya bak disambar petir, berakhir kehilangan keseimbangannya. Berakhir dirumah sakit, papanya dirawat. Malam penuh kalut, kenangan buruk, rasa sakit masa lalu, cukup sudah. Saat ini kukecup udara pagi, dengan sisa-sisa getir merangkap sukma. Sinar matahari tak pernah pudar, kalahkan semangatku. 

"Nizha!" Suara ini sudah lama ku rindukan, sangat lama. 

"Sarah" 

"Cepetan mandi, katanya mau kerumah sakit" Disertai senyum khas miliknya

Hanya berbalaskan senyum nizha, gadis cantik terbalut luka dan air mata. 

     Setelah menunjukkan diri mereka didepan papa nizha, mereka pamit untuk bersandar pada udara luar. 

"Sar, aku mau ketemu bunda"

"Bunda? "

"Bunda areez"

"Niz-"

"Aku kangen" Untuk seperkian detik sarah mengerti, dibalas anggukan sarah, mereka langsung menuju tujuannya. 

" Ternyata gak sedikitpun kamu lepaskan, bahkan itu semua tak pernah terdengar karna ia bersembunyi dibalik senyummu niz" Lirih batin milik sarah

"Nizha"

"Bundaaa" Peluknya pada wanita tangguh itu

"Ada apa kesini, tiba-tiba lagi" Tanyanya ramah

"Kangen" Satu kata penuh makna

"Oalah, ini siapa nak? " Matanya menangkap wajah cantik sarah

"Ini teman nizha, sarah"

"Apa kabar tante"

"Alhamdulillah baik" Sarah mendapat sambutan berupa senyum hangat, sangat hangat, hingga mungkin belum pernah ia rasakan sebelumnya. 

"Duduk, bunda bikinin teh dulu"

"Jangan repot repot tante"

"Enggak kok" Jawabnya sembari meninggalkan dua bersahabat itu. 

"Kamu kangen areez ya? " Terbatuk-batuk nizha dibuatnya, bukan main dari mana orang tua ini tahu

"Dari mata kamu, kelihatan" Bingo, nizha tak bergerak dibuatnya

"Bunda harap semua berdiri tegar, ternyata sulit"

"Maaf bunda"

"Ada apa nizha"

"Sepertinya baru saja nizha tau bunda, mengapa tak semua raga menerima dewasa. Terdengar kepedihan di suaranya, senyum orang tua itu hadir diwajahnya. 

" Bunda juga belum dewasa nizha, jika dibandingkan anak itu, menerima takdirnya tanpa keluh" Ucapnya bangga mengingat anak sulungnya.

Tak tahan lagi nizha menahan butir-butir air mata itu. Rindu itu menusuknya sangat dalam, terlalu dalam hingga batinnya hampir menyerah menampung makhluk egois itu. Sarah juga hancur dibuatnya, sekarang semuanya tak lagi bersembunyi dibalik senyummu niz. 

"Maaf bunda" Isaknya. Biarkan, biarkan ia menangis, biarkan bundanya menyebarkan kehangatan miliknya dengan pelukan. Ternyata kehangatan ini turunan bundanya, hangatnya sama dengan milik areez, pria tangguh nan hangat yang sirna di bawa mengudara oleh Tuhannya. 

Berawal langit mendulang awan, hingga langit mulai membumi, sang awan merenggut langit dengan saksama menjadikannya senja berbalut luka. Sepertinya areez tenang disana, aku bisa melihatnya, angkut rinduku memeluk mu, dia hak mu aku tak sanggup bercumbu lagi dengannya. 

Sekali lagi. Maaf areez aku tak sekuat matahari yang merindukan bulannya.

 Kau ku ikhlaskan. Pergilah.






 

  • 1 Comments
Beranda

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *

  • Cerpen
  • Contact
  • Puisi

About Me

SimbaQ
Segala tentang keresahan yang dituangkan jadi tulisan. 
Read more >

recent posts

Labels

cerpen romansa (3) Horror (2) Kumpulan puisi (2) Narasi (1) puisi sedu (2) simbaQ (6) thriller (2)

Laporkan Penyalahgunaan

Keep Reading

Semenanjung

Search something!

Menu

  • About
  • Privacy policy
  • Disclaimer
  • Contact

instagram

Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top